Musim Panen Tembakau Kendal, Petani Optimistis Harga Naik di Tengah Kemarau

Musim Panen Tembakau Kendal, Petani Optimistis Harga Naik di Tengah Kemarau
ABDUL GHOFUR. TUMBUH SUBUR - Tanaman tembakau warga Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, tumbuh subur tanpa gangguan hamai, Selasa (28/7/2026).
0 Komentar

KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID — Memasuki akhir Juli, denyut nadi perekonomian di sejumlah desa sentra pertanian di Kabupaten Kendal mulai bergairah. Musim panen tembakau yang ditandai dengan petikan daun-daun bagian bawah tanaman yang sudah cukup umur secara serentak dimulai oleh para petani.

Agenda tahunan yang jatuh pada awal Agustus ini menjadi momen paling dinanti bagi warga Desa Pagerdawung dan Kedunggading, Kecamatan Ringinarum—dua wilayah yang dikenal sebagai lumbung tembakau unggulan di kabupaten tersebut.

Bagi masyarakat Pagerdawung, musim tembakau bukanlah sekadar rutinitas pertanian semata. Lebih dari itu, siklus tanam hingga panen ini telah mengakar sebagai tradisi budaya yang sarat dengan nilai kebersamaan dan gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga:KOF 2026 Tembus 462 Ribu Pengunjung, Transaksi Tembus Rekor Rp60,6 Miliar di KendalDominasi Turnamen Voli Mahasiswa di Jakarta, USM Kawinkan Gelar Juara Putra dan Putri

Aktivitas di lahan pertanian, mulai dari pengolahan tanah, pembuatan persemaian, penanaman bibit, hingga perawatan rutin, semuanya dikerjakan secara kolektif dengan melibatkan anggota keluarga, tetangga, hingga buruh tani dari desa sekitar.

Penjabat Kepala Desa Pagerdawung, Riyanto, mengungkapkan bahwa musim panen tembakau selalu menjadi penggerak utama roda ekonomi desa. Tidak hanya petani pemilik lahan yang menikmati hasilnya, tetapi juga warga lain yang berperan sebagai buruh tanam, pemetik daun, pengangkut hasil panen, hingga tenaga pengrajang dan penjemur tembakau. Kehadiran lapangan pekerjaan musiman ini memberikan dampak berganda bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

“Musim tembakau sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Pagerdawung. Nilai kebersamaan dan gotong royong tetap terjaga karena warga saling membantu mulai dari penanaman sampai panen,” ujarnya di sela-sela aktivitas panen, Selasa (28/7/2026).

Suasana kebersamaan tersebut tampak jelas di hamparan sawah dan ladang tembakau warga. Di sela-sela waktu istirahat, mereka kerap duduk melingkar menikmati bekal makanan yang dibawa dari rumah masing-masing. Tradisi makan bersama ini menjadi perekat sosial sekaligus pengingat bahwa di balik kerja keras mengais rezeki, semangat kekeluargaan tetap terjaga.

Optimisme menyelimuti wajah para petani menyambut musim panen tahun ini. Suwanto, petani asal Desa Kedunggading, menilai bahwa kualitas daun tembakau pada musim 2026 berpotensi melampaui capaian tahun sebelumnya.

0 Komentar