PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID — Rata-rata anak Indonesia pada rentang usia 9 hingga 12 tahun menghabiskan waktu antara 5 hingga 7 jam setiap harinya hanya untuk menatap layar gawai. Fakta mengejutkan ini terungkap dalam Seminar Parenting yang digelar oleh SD Islam Nusantara Kota Pekalongan bagi wali murid kelas 4, 5, dan 6, pada Sabtu (25/7/2026) di aula lantai 2 Gedung Aswaja, Kota Pekalongan.
Acara yang menghadirkan psikolog Rika Sylvia NH, S.Psi., M.Psi., Psikolog, CPHt., sebagai narasumber utama itu juga dihadiri oleh Sekretaris PCNU Kota Pekalongan Abdul Adhim serta Ketua Yayasan Islam Nusantara Ustaz Muhammad Yusuf.
Dengan mengusung tema “Smart Parenting & Sinergi Rumah – Sekolah: Membentengi Anak di Era Digital demi Mutu Pendidikan yang Lebih Baik”, seminar tersebut menjadi ajang diskusi penting bagi para orang tua dalam menghadapi tantangan digital yang kian kompleks.
Baca Juga:KOF 2026 Tembus 462 Ribu Pengunjung, Transaksi Tembus Rekor Rp60,6 Miliar di KendalDominasi Turnamen Voli Mahasiswa di Jakarta, USM Kawinkan Gelar Juara Putra dan Putri
Rika mengungkapkan bahwa kondisi darurat digital ini diperparah dengan temuan lain yang tak kalah mencengangkan. Sebanyak 79 persen anak telah memiliki akses terhadap ponsel pintar pribadi sebelum usia 12 tahun, dan 60 persen di antaranya menggunakan perangkat tersebut tanpa pengawasan orang tua. Lebih lanjut, survei UNICEF pada 2023 mencatat bahwa 1 dari 3 anak pernah terpapar konten yang tidak sesuai dengan usianya selama berselancar di dunia maya.
“Dunia digital membuka peluang besar sekaligus menghadirkan risiko nyata bagi anak-anak. Akses internet tanpa batas, media sosial, dan konten online yang tidak terkontrol dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara signifikan. Orang tua dan guru perlu memahami tantangan ini agar dapat membimbing anak dengan bijak,” ujar Rika di hadapan para peserta yang memenuhi ruang aula.
Menurut psikolog yang juga praktisi hipnoterapi tersebut, meskipun teknologi memiliki sisi positif bagi pembelajaran melalui akses terhadap e-book maupun video edukatif, dampak negatif terhadap psikologis anak sangat nyata. Hal ini disebabkan oleh pelepasan hormon dopamin di otak saat anak menerima notifikasi atau konten baru dari perangkatnya, yang kemudian memicu siklus ketergantungan.
“Ketika gadget diambil, kadar dopamin turun drastis sehingga anak merasa gelisah, mudah marah, dan sulit fokus. Siklus craving-reward ini menyerupai pola kecanduan dan dapat mengganggu motivasi belajar serta kesehatan mental anak,” paparnya.
