BATANG, RADARPEKALONGAN.ID — Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, resmi menetapkan status siaga darurat kekeringan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi dini meskipun hingga saat ini belum ada laporan warga yang mengalami kesulitan akses air bersih.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah, mengungkapkan bahwa dari 15 kecamatan yang ada, belum ada permintaan distribusi air bersih. Kondisi ini dinilai jauh lebih baik dibandingkan musim kemarau pada 2023 dan 2024 yang sempat memaksa pemerintah mengirimkan bantuan air ke sejumlah wilayah.
“Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada laporan kekurangan air dari masyarakat. Namun, kami tidak boleh lengah karena Agustus diprediksi sebagai puncak kemarau,” ujar Wawan saat ditemui di kantornya, Selasa (11/8/2026).
Baca Juga:Kebakaran Hantam Dua Titik di Kendal, 8 Rumah Ludes, Kerugian Capai Ratusan JutaHarga Tembakau Kendal Mulai Naik, Spekulan Berani Tebus Rp60 Ribu
Menurut Wawan, musim kemarau tahun ini masih tergolong terkendali. Bahkan sepanjang 2025, Kabupaten Batang sama sekali tidak menerima permintaan dropping air bersih. Meski demikian, pemerintah tidak ingin terlena. Periode kering diperkirakan masih berlangsung hingga September dan baru mulai mereda pada awal Oktober mendatang.
Penetapan status siaga darurat bukan berarti Batang sedang mengalami krisis air. Status tersebut, jelas Wawan, merupakan bentuk kesiapsiagaan untuk merespons potensi bencana yang mulai meningkat.
Jika kekeringan meluas dan berdampak signifikan terhadap masyarakat, status dapat dinaikkan menjadi tanggap darurat, yang kemudian diikuti dengan masa transisi hingga pascabencana.
“Karena ini puncak kemarau, kita wajib siaga. Walaupun belum ada kejadian, kita harus antisipasi,” tegasnya.
Keputusan ini juga mempertimbangkan kemungkinan musim kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan, yang dalam beberapa diskusi disebut dengan istilah “Godzilla” untuk menggambarkan kemarau panjang.
Meskipun demikian, BPBD tetap menjadikan prediksi BMKG sebagai acuan utama, selain adanya edaran dari pemerintah provinsi yang mendorong daerah menyesuaikan kewaspadaan berdasarkan kondisi masing-masing.
Setelah draf keputusan disetujui oleh Bupati Batang, BPBD langsung menyiapkan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) pada Kamis mendatang. Rapat koordinasi ini bertujuan memastikan semua sektor siap menghadapi potensi dampak kekeringan, terutama di bidang pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi.
