PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID — Dinas Pendidikan Kota Pekalongan mencatat capaian membanggakan dalam sektor pendidikan anak usia dini. Berdasarkan data Rapor Pendidikan terbaru, angka partisipasi anak usia 5–6 tahun dalam mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Pekalongan berhasil mencapai 100 persen.
Capaian ini mencerminkan tingginya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan bagi tumbuh kembang anak sejak dini. Meski demikian, jumlah total peserta didik di jenjang PAUD secara keseluruhan masih menunjukkan fluktuasi, seiring dengan perubahan demografi anak usia 2–6 tahun di wilayah tersebut.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Sherly Imandha, menjelaskan bahwa dinamika jumlah siswa merupakan hal yang lumrah terjadi. Ada lembaga yang mengalami peningkatan peserta didik, namun ada pula yang menurun.
Baca Juga:Batang Siaga Darurat Kekeringan, Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus 2026Kebakaran Hantam Dua Titik di Kendal, 8 Rumah Ludes, Kerugian Capai Ratusan Juta
“Untuk jenjang PAUD saat ini memang masih sangat fluktuatif. Ada lembaga yang jumlah peserta didiknya tetap, ada yang berkurang, dan ada juga yang bertambah. Namun, perubahan itu belum terlalu signifikan. Jika jumlah anak usia dua sampai enam tahun di Kota Pekalongan berkurang, otomatis jumlah peserta didik di satuan PAUD juga akan ikut berkurang,” ujar Sherly.
Untuk menjaga tren positif ini, Dinas Pendidikan terus menggandeng Bunda PAUD di berbagai wilayah guna mengampanyekan pentingnya investasi pendidikan sejak usia dini. Menurut Sherly, PAUD merupakan bekal fundamental yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Kami selalu mendorong Bunda PAUD untuk terus mengampanyekan pentingnya pendidikan anak usia dini. PAUD adalah investasi yang sangat menjanjikan. Apa yang kita tanam hari ini, Insyaallah akan kita petik hasilnya ketika anak-anak tumbuh dewasa nanti,” katanya.
Saat ini, terdapat 266 lembaga PAUD yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Pekalongan dengan beragam variasi layanan. Sherly menegaskan bahwa faktor ekonomi tidak boleh lagi menjadi kendala bagi anak-anak untuk memperoleh hak pendidikannya. Masih banyak lembaga PAUD yang menerapkan sistem SPP harian dengan besaran sangat terjangkau, mulai dari Rp2.000 hingga Rp4.000 per hari.
“Masih ada lembaga yang menerapkan SPP harian sekitar Rp2.000, Rp3.000, hingga Rp4.000. Jadi sebenarnya PAUD tidak selalu mahal. Kami berharap seluruh orang tua dapat memanfaatkan layanan PAUD yang tersedia demi memberikan bekal terbaik bagi tumbuh kembang anak,” pungkasnya. (mal)
