Lestarikan Budaya Jawa, Siswa SD Salafiyah Fityatul Huda Gelar Tradisi Rabu Pungkasan

Lestarikan Budaya Jawa, Siswa SD Salafiyah Fityatul Huda Gelar Tradisi Rabu Pungkasan
MALEKHA. SERU - Keseruan para siswa saat mengikuti udik-udikan tradisi khas yang dilakukan saat Rabu pungkasan.
0 Komentar

PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID – Suasana haru dan riang menyatu di lingkungan SD Salafiyah Fityatul Huda. Ratusan siswa dari seluruh tingkatan kelas, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, berkumpul untuk menggelar tradisi Rabu Pungkasan sebagai bentuk penutupan bulan Safar menurut kalender Hijriah.

Rabu Pungkasan merupakan warisan budaya Jawa yang rutin dilaksanakan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Momen ini dimaknai sebagai sarana doa dan refleksi kolektif, di mana masyarakat memohon keselamatan, keberkahan, serta perlindungan dari segala bencana dan musibah.

Baca Juga:Jalan Berbatu Toso-Kluwih Kini Mulus Berkat TMMD, Mobilitas Warga MelonjakPatroli Gabungan 42 Personel Antisipasi Karhutla di Jalur Rawan Pekalongan

Di lingkungan sekolah, tradisi ini menjadi wahana edukasi budaya sekaligus penguatan nilai-nilai spiritual bagi para siswa.

Kegiatan dimulai dengan pembacaan Surah Yasin secara bersama-sama yang dipimpin oleh guru, dilanjutkan dengan pelaksanaan salat sunah berjamaah. Setelah rangkaian ibadah khusyuk usai, suasana berubah semarak saat memasuki puncak acara: tradisi udik-udikan atau tebar uang koin.

Yang menarik, seluruh koin yang digunakan dalam udik-udikan berasal dari swadaya siswa sendiri. Setiap anak membawa uang receh dari rumah dengan jumlah sukarela tanpa adanya target atau paksaan.

Koin-koin tersebut kemudian dikumpulkan oleh panitia dan dilemparkan kembali untuk diperebutkan dengan gembira oleh para siswa. Tradisi ini tidak hanya melatih keikhlasan, tetapi juga mengajarkan nilai berbagi dan kebersamaan sejak dini.

Prima Lukitawati, perwakilan guru SD Salafiyah Fityatul Huda, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang agar nilai-nilai luhur budaya Jawa dapat diinternalisasi oleh generasi muda secara menyenangkan.

Pelibatan aktif siswa dalam setiap tahapan acara menjadi kunci agar makna tradisi tidak sekadar dihafal, tetapi juga dirasakan.

“Rabu Pungkasan adalah ikhtiar dan doa bersama agar kita semua diberikan keselamatan dan dijauhkan dari musibah. Kami sengaja melibatkan siswa secara penuh—mulai dari mengumpulkan uang receh hingga ikut dalam udik-udikan—karena ini adalah momen dari anak, oleh anak, dan untuk anak. Semangat kebersamaan dan gotong royong sangat terasa di sini,” ujar Prima di sela-sela acara.

Baca Juga:SPPG Kendal Diminta Serap Telur Peternak Lokal untuk MBGWali Kota Lepas Pelajar Berprestasi ke Tiga Ajang Nasional Sekaligus

Melalui tradisi tahunan ini, pihak sekolah berharap para siswa tidak hanya merasakan kegembiraan sesaat, tetapi juga memahami esensi sedekah, kerja sama, dan pelestarian budaya yang menjadi identitas bangsa. Dengan demikian, warisan leluhur tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi. (mal)

0 Komentar