PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID — Keberhasilan Kota Pekalongan dalam mengembangkan Padi Biosalin di lahan terdampak rob mendorong Pemerintah Kota setempat untuk melangkah ke tahap lebih strategis, yaitu membangun pusat pembenihan bibit secara mandiri.
Langkah ini diambil mengingat selama ini ketersediaan benih Padi Biosalin masih terbatas dan harus didatangkan dari luar daerah, khususnya dari Bogor dan Banten.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati, mengungkapkan bahwa benih Padi Biosalin saat ini belum tersedia di wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Padahal, potensi lahan pertanian di kawasan pesisir utara (Pantura) sangat membutuhkan varietas tahan genangan air laut tersebut.
Baca Juga:Polres Kendal Kembalikan 62 Remaja, 48 Motor Ditahan 3 Bulan Usai Razia Balap LiarPlt Bupati Pekalongan: HUT RI ke-81 Jadi Spirit Tingkatkan Pelayanan dan Kejar Ketertinggalan
“Kami bercita-cita bisa menghasilkan benih Padi Biosalin sendiri. Saat ini kami sedang didampingi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSP) untuk proses sertifikasi sekaligus perencanaan pembangunan pusat pembenihan,” ujar Lili, Rabu (19/8/2026).
Wali Kota Pekalongan, A. Afzan Arslan Djunaid, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pusat pembibitan di wilayahnya agar proses distribusi benih tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar Pulau Jawa. Menurutnya, Kota Pekalongan dinilai telah memenuhi syarat untuk menjadi lokasi pusat pembenihan, baik dari sisi infrastruktur maupun sumber daya pendukung.
“Tujuannya agar prosesnya bisa lebih cepat dan siap sedia secara lokal. Insyaallah, wilayah ini dinilai sudah siap untuk pembibitan Padi Biosalin,” kata Afzan.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal, Bimala, menyambut positif rencana tersebut. Ia menilai inisiatif ini sangat strategis untuk mendukung keberlanjutan lahan pertanian eksisting di sepanjang Pantura yang selama ini menghadapi tantangan intrusi air laut.
“Pak Wali berencana mendirikan pusat pembenihan di sini. Kehadirannya akan sangat membantu pemenuhan kebutuhan bibit untuk lahan eksisting di Pantura. Ini adalah langkah nyata untuk mencetak sawah baru,” ujar Bimala.
Hingga saat ini, penanaman Padi Biosalin di Kota Pekalongan telah memasuki musim panen keempat dengan luas lahan mencapai 56 hektar. Produktivitas yang diraih tercatat sebesar 6,6 ton per hektar, angka yang melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran 6,3 ton per hektar. Capaian ini menjadi bukti bahwa varietas Biosalin sangat cocok dikembangkan di wilayah pesisir yang kerap tergenang rob.
