SMK Bina Utama Kendal Perkuat Karakter Siswa, Cegah Bencana Sosial Seperti Tawuran dan Perundungan

SMK Bina Utama Kendal Perkuat Karakter Siswa, Cegah Bencana Sosial Seperti Tawuran dan Perundungan
ABDUL GHOFUR. SAMBUTAN - Kepala SMK Bina Utama Kendal, Santi Larasati (kiri), saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan Bimbingan Motivasi terhadap Masyarakat Daerah Rawan Bencana Sosial dan Nonalam, Kamis (27/8/2026).
0 Komentar

KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Bencana sosial tidak selalu datang dalam bentuk konflik besar. Tawuran antarpelajar, perundungan, tindak kriminal, hingga penyebaran hoaks bisa menjadi ancaman yang muncul di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Karena itu, penguatan karakter siswa dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah bencana sosial sejak dini.

Hal tersebut menjadi perhatian SMK Bina Utama Kendal dalam kegiatan Bimbingan Motivasi terhadap Masyarakat Daerah Rawan Bencana Sosial dan Nonalam, Kamis (27/8/2026). Kegiatan ini mendapat dukungan dari Dinas Sosial Kabupaten Kendal dan turut dihadiri perwakilan dari tingkat provinsi.

Kepala SMK Bina Utama Kendal, Santi Larasati, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan edukasi kepada siswa. Lebih dari itu, program ini menjadi momentum untuk memperkuat karakter peserta didik agar mampu menghadapi dan mengantisipasi berbagai bentuk bencana sosial.

Baca Juga:SEZ Industropolis Run 2026 Bidik Atlet Nasional, Lintasan Flat Jadi Andalan di KITB BatangUji Mental ke Kandang Bali United, Kendal Tornado FC Siap Hadapi Dua Laga Tandang Awal

“Bagi kami ini bukan hanya edukasi, tetapi penguatan karakter. Bencana nonalam maupun bencana sosial sebenarnya bisa kita antisipasi. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan sekolah, tetapi harus bersama-sama dengan seluruh instansi terkait,” tegas Santi.

Menurutnya, SMK Bina Utama Kendal menjadi salah satu sekolah yang dipercaya sebagai sasaran program karena kondisi sosial di sejumlah wilayah Kendal. Dari penjelasan pihak provinsi, wilayah seperti Ngampel dan Pegandon memiliki karakteristik sebagian anak berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal atau orang tua yang bekerja di luar negeri.

“Kita terpilih dan dipercaya menjadi sasaran program ini karena ada pertimbangan kondisi sosial masyarakat. Sebagian siswa kita juga berasal dari wilayah tersebut, sehingga program ini dinilai tepat untuk dilaksanakan di sekolah kami,” ujarnya.

Sebanyak 30 siswa perwakilan pengurus OSIS mengikuti bimbingan motivasi. Mereka nantinya diharapkan menjadi penggerak yang menyampaikan kembali informasi dan nilai-nilai yang diperoleh kepada teman-temannya.

Santi menjelaskan, kegiatan ini juga memberikan pemahaman baru bahwa bencana tidak hanya berkaitan dengan fenomena alam. Persoalan sosial yang berkembang di lingkungan masyarakat juga perlu diwaspadai.

“Harapannya anak-anak memahami bahwa bencana itu tidak hanya bencana alam. Justru bencana sosial seperti tawuran sekarang menjadi persoalan yang harus kita cegah bersama, khususnya di kalangan pelajar,” katanya.

0 Komentar