RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Program Keluarga Berencana (KB) pascapersalinan di Kota Pekalongan baru mencapai angka sekitar 60 persen. Meskipun bukan target prioritas utama, capaian ini dinilai penting untuk mendukung pengendalian jumlah penduduk dan menjaga kesehatan ibu pascamelahirkan.
Sekretaris Dinsos P2KB Kota Pekalongan, Nur Agustina, menjelaskan bahwa capaian belum optimal karena banyak masyarakat yang sebenarnya tidak berencana memiliki anak lagi setelah melahirkan, namun belum mengambil langkah nyata untuk mengikuti program KB.
“Masih sering ditemukan warga yang berniat menunda atau bahkan tidak ingin menambah anak, tetapi belum memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi. Ini membuat tujuan pengendalian penduduk belum tercapai maksimal,” ungkapnya.
Baca Juga:Resmikan Pos Jaga JPL 54 Purworejo, Bupati Kendal Targetkan Zero Accident Perlintasan KeretaKarnaval Siaga dan Fashion Show SDN Tangkil Kulon Meriah, Dorong Kreativitas Siswa Cilik
Pihaknya berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya KB pascapersalinan semakin meningkat melalui edukasi dan sosialisasi berkelanjutan.
Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Pekalongan, Dwi Hesti, menekankan bahwa KB pascapersalinan adalah langkah krusial untuk mencegah kehamilan dini yang tidak direncanakan, yang berisiko terjadi segera setelah proses persalinan.
“Dari beberapa kasus yang kami temui, kehamilan bahkan bisa terjadi sebelum 40 hari setelah melahirkan atau pada bulan kedua. Inilah alasan kenapa KB pascapersalinan sangat penting dilakukan sedini mungkin,” jelasnya.
KB pascapersalinan diharapkan menjadi strategi utama Pemkot Pekalongan untuk menekan angka kehamilan tidak direncanakan sekaligus memperkuat upaya peningkatan kesejahteraan keluarga. (nul)
