RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Situasi pesisir Kabupaten Batang memanas! Puluhan pengusaha kapal dan Anak Buah Kapal (ABK) terpaksa turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran menggeruduk Gedung DPRD Batang, Senin (4/5/2026).
Massa mengamuk lantaran tak kuat lagi menanggung beban melonjaknya harga bahan bakar solar non-subsidi yang dinilai sudah di luar nalar dan kian mencekik urat nadi sektor perikanan!
Sambil membentangkan spanduk penolakan yang membentang lebar, massa tak cuma ‘menyemut’ menyuarakan orasi di gedung wakil rakyat, tapi juga melanjutkan konvoi protesnya ke Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Batang.
Baca Juga:Waspada! Dinkes Pekalongan Temukan 3 Kasus Campak-Rubella pada Anak, Imunisasi Kejar Langsung DikebutTipu Karyawan BUMN Rp 122 Juta, Dukun Pengganda Uang Mbah Ekan Ditangkap Polres Kendal
Koordinator aksi, Diharnoko, blak-blakan membongkar penderitaan nelayan. Sejak April 2026, harga solar meledak gila-gilaan dari yang tadinya di kisaran Rp 9.000 hingga Rp 10.000 per liter, kini meroket tembus angka Rp 30.000 per liter! Kondisi gila ini langsung melumpuhkan kapal-kapal pencari ikan berkapasitas di atas 30 Gross Tonnage (GT).
“Dengan harga sekarang, biaya operasional bisa naik dua kali lipat. Kalau dipaksakan berangkat, pasti rugi. Akhirnya banyak kapal yang memilih tidak melaut,” keluh Diharnoko ngenes di sela-sela aksi.
Kapal Parkir, ABK Kena Badai Pengangguran Massal
Dampak dari meroketnya harga BBM ini benar-benar bikin nelayan Batang menjerit. Bayangkan saja, dari total 40 kapal yang biasanya gagah membelah ombak mencari ikan, kini hanya tersisa sekitar 5 kapal yang nekat beroperasi. Ujung-ujungnya, badai pengangguran menghantam para ABK yang terpaksa gigit jari!
“Banyak ABK yang akhirnya menganggur karena kapal tidak jalan. Ini bukan soal stok BBM, tapi harganya sudah tidak masuk akal dibanding hasil tangkapan,” tegas Diharnoko berapi-api mewakili keresahan rekan-rekannya.
Jeritan pilu pahlawan protein ini langsung direspons oleh Wakil Ketua DPRD Batang, Junaenah. Ia mengaku miris melihat nasib masyarakat pesisir Pantura Batang yang hidupnya seratus persen bergantung pada hasil laut, apalagi setelah banyak lahan sawah yang hancur dan tak bisa ditanami akibat gempuran banjir rob.
“Kita harus berpihak pada rakyat kecil. Kalau nelayan tidak melaut, mereka tidak punya penghasilan. Apalagi banyak sawah di Batang yang terdampak rob, sehingga sektor laut menjadi tumpuan utama,” ungkap Junaenah penuh empati.
