Harga Pertamax Naik, Konsumsi Pertalite di Batang Melonjak 1.000 Liter per Hari

Harga Pertamax Naik, Konsumsi Pertalite di Batang Melonjak 1.000 Liter per Hari
NOVIA ROCHMAWATI - Sejumlah pengendara mengisi BBM jenis Pertalite di salah satu SPBU di Kabupaten Batang. Kenaikan harga Pertamax dalam beberapa waktu terakhir mendorong meningkatnya konsumsi Pertalite hingga sekitar 1.000 liter per hari.
0 Komentar

BATANG, RADARPEKALONGAN.ID – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada perubahan pola konsumsi masyarakat Kabupaten Batang. Sejumlah pengendara mulai beralih menggunakan Pertalite yang dinilai lebih terjangkau, sehingga konsumsi BBM bersubsidi tersebut mengalami peningkatan signifikan.

Berdasarkan data dari salah satu SPBU di Kota Batang, penjualan Pertalite meningkat dari sekitar 6.000 liter menjadi 7.000 liter per hari atau naik sekitar 1.000 liter. Sementara itu, konsumsi Pertamax masih relatif stabil di angka 1.500 liter per hari meskipun harga jualnya mengalami kenaikan.

Salah seorang pengendara sepeda motor asal Kampung Seturi, Budi, mengaku memutuskan beralih dari Pertamax ke Pertalite sejak beberapa hari terakhir. Selain faktor harga yang lebih murah, kemudahan mendapatkan Pertalite di wilayahnya juga menjadi pertimbangan utama.

Baca Juga:DBHCHT Kendal Dipangkas 50%, Bupati Minta Verifikasi BLT Petani Tembakau DiperketatUMKM Pekalongan Dituntut Adaptif, Dekranasda Dorong Manfaatkan AI untuk Pemasaran

“Sebelumnya saya pakai Pertamax karena lebih bagus untuk mesin. Tapi sekarang harganya naik, sementara di kampung juga sulit mencari Pertamax eceran, akhirnya beralih ke Pertalite,” katanya usai mengisi BBM di salah satu SPBU di Batang, Senin (15/6/2026).

Menurut Budi, kenaikan harga BBM menambah beban pengeluaran masyarakat, terutama bagi kalangan pekerja dan pelaku usaha kecil yang setiap hari bergantung pada kendaraan bermotor.

“Harapannya harga BBM bisa turun lagi supaya masyarakat tidak semakin berat. Sekarang kebutuhan sehari-hari juga serba naik,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan pengemudi ojek online, Toha. Meski masih menggunakan Pertalite, ia mengakui bahwa kenaikan harga Pertamax tetap berdampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat secara umum.

“Kalau saya pakai Pertalite jadi tidak terlalu terasa langsung. Tapi biasanya kalau BBM naik, harga kebutuhan lain juga ikut naik. Itu yang akhirnya dirasakan masyarakat,” ungkapnya.

Toha mengungkapkan pendapatannya sebagai pengemudi ojek online masih fluktuatif, berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari. Karena itu, ia berharap harga BBM maupun kebutuhan pokok dapat kembali stabil agar daya beli masyarakat tidak semakin tertekan.

Peningkatan konsumsi Pertalite menunjukkan bahwa faktor harga masih menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih bahan bakar kendaraan. Kondisi ini juga menggambarkan bagaimana perubahan kebijakan harga energi dapat langsung memengaruhi pola konsumsi masyarakat di daerah, sekaligus menjadi sinyal bagi pemerintah untuk terus memantau stabilitas harga dan daya beli masyarakat. (nov)

0 Komentar