PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID – Sekitar seratus mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Pekalongan, Senin (22/6/2026). Massa berangkat dengan berjalan kaki dari Kampus Universitas Pekalongan dan berkumpul di depan gedung dewan, membentangkan spanduk serta menyuarakan 17 pokok tuntutan yang terdiri atas 11 isu nasional dan 6 isu lokal.
Suasana depan gedung DPRD mendadak berubah menjadi ruang dialog terbuka ketika Wali Kota Pekalongan, A Afzan Arslan Djunaid, bersama Ketua DPRD M. Azmi Basyir, Kapolres Pekalongan Kota, Dandim 0710/Pekalongan, serta jajaran kepala OPD, turun langsung menemui massa. Dialog pun digelar secara lesehan di badan jalan, momen yang memperlihatkan keseriusan pemerintah daerah merespons aspirasi mahasiswa.
Aaf, sapaan akrab Wali Kota, mengapresiasi aksi mahasiswa yang dinilai konstruktif dan menjadi bagian penting dari kontrol sosial dalam pembangunan daerah. “Penyampaian aspirasi sudah kami dengarkan dan jawab, baik yang bersifat nasional maupun lokal. Masukan seperti ini sangat berharga agar kebijakan yang kami ambil semakin tepat sasaran,” ujarnya di tengah kerumunan mahasiswa.
Baca Juga:Kapolres Kendal Pimpin Evakuasi Siti Rokhanah dari Rumah Terendam Rob ke Hunian BaruSekda Pekalongan Pastikan Perhatian Kesejahteraan Guru TPQ, 405 Khataman di Masjid Al Muhtarom
Sejumlah isu strategis mengemuka dalam dialog tersebut. Mahasiswa menyoroti rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dinilai masih mengambang, penegakan hukum terhadap limbah cair industri batik yang mencemari lingkungan, tata kelola pasar tradisional yang tidak berpihak pada pedagang kecil, serta penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis yang dianggap belum terukur dampaknya. Isu perlindungan pekerja informal serta penanganan banjir dan rob juga ikut dibahas.
Menanggapi itu, Wali Kota menjelaskan bahwa proyek PSEL masih berada pada tahap awal dan membutuhkan kajian mendalam serta persetujuan dari pemerintah pusat. “PSEL adalah solusi jangka panjang, bukan solusi instan. Kami tidak akan terburu-buru sebelum semua aspek matang,” tegasnya. Terkait limbah batik, Pemkot terus mendorong pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal di sentra-sentra industri, sedangkan untuk banjir dan rob, pembangunan tanggul, peningkatan kapasitas pompa, serta pembuatan kolam retensi menjadi prioritas.
Koordinator Aliansi Mahasiswa, Muhammad Syakif Arsilan, menyatakan bahwa aksi ini bukan sekadar seremoni. Pihaknya akan mengawal seluruh komitmen yang telah diutarakan pemerintah daerah. “Kami siap turun ke jalan lagi jika kesepakatan ini tidak berjalan semestinya. Ini bukan ancaman, tapi bentuk tanggung jawab kami sebagai mahasiswa,” tegasnya dengan nada tegas.
