BATANG, RADARPEKALONGAN.ID – Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Batang mengalami kenaikan sejak pertengahan Juni 2026. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga komoditas tersebut naik Rp3.000 per kilogram dari sebelumnya Rp137.000 menjadi Rp140.000 per kilogram.
Kenaikan harga jual daging sapi ini dipicu oleh melonjaknya harga sapi hidup di tingkat peternak dan pemasok. Kondisi tersebut memberikan efek berantai tidak hanya pada pedagang daging, tetapi juga pelaku usaha kuliner berbahan baku daging sapi seperti bakso dan soto.
Salah satu pedagang daging sapi di Pasar Batang, Ida, mengungkapkan bahwa kenaikan harga tersebut berdampak langsung terhadap penurunan daya beli masyarakat. Dalam beberapa pekan terakhir, jumlah pembeli terus menyusut sehingga ia terpaksa mengurangi pasokan.
Baca Juga:Pendaftaran SPMB SMP Kabupaten Pekalongan Diundur Sepekan, Validasi Piagam Diperketat Demi TransparansiSensus Ekonomi 2026 Jateng Resmi Dimulai, Plt Bupati Pekalongan Minta Masyarakat Terbuka dengan Petugas
“Biasanya saya menyediakan 75 kilogram daging per hari, sekarang hanya sekitar 40 kilogram karena pembeli juga mulai mengurangi jumlah pembelian. Stok dipangkas hingga 30 persen untuk menghindari kerugian jika tidak laku,” ujar Ida saat ditemui di lapaknya, Senin (22/6/2026).
Tak hanya pedagang eceran, pengusaha olahan daging pun ikut merasakan tekanan. Sarkuwat, pemilik usaha bakso di Batang, mengaku memilih menekan biaya produksi dengan cara mengurangi porsi atau ukuran bakso, alih-alih menaikkan harga jual ke konsumen.
“Setiap hari tetap beli satu kilogram daging, tapi porsi baksonya saya kurangi. Harga tetap saya pertahankan agar pelanggan tidak lari,” jelasnya.
Sarkuwat berharap pemerintah dapat segera melakukan intervensi stabilisasi harga daging sapi, mengingat kenaikan harga bahan baku ini cukup memberatkan pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidupnya pada komoditas tersebut.
“Kami berharap harga kembali normal agar tidak semakin kesulitan menjalankan usaha,” pungkasnya. (fel/nov)
