KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Madrasah Budaya Pondok Pesantren Pungkuran, Kaliwungu, Kabupaten Kendal, menyuguhkan perpaduan seni, budaya, dan akademik dalam Pagelaran Seni Santri Laju pada malam akhirussanah, Sabtu (4/7/2026).
Acara yang digelar di hadapan ratusan wali santri dan tamu undangan itu menjadi ajang unjuk kreativitas para santri di luar kemampuan keagamaan.
Di atas panggung, para santri tidak hanya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tetapi juga menunjukkan keberanian berpidato dalam bahasa Inggris, membacakan puisi karya sendiri, hingga mementaskan teater.
Baca Juga:BMKG Imbau Warga Jateng Waspada Dampak El Nino hingga Akhir 2026Unikal Resmikan Gedung A Baru dan Laboratorium OSCE, Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan
Kemeriahan semakin terasa ketika alunan gitar, bass, keyboard, dan drum berpadu harmonis dengan gamelan serta angklung dalam aransemen lagu Laskar Cinta, menciptakan perpaduan antara tradisi dan modernitas yang disambut meriah oleh penonton.
Pagelaran ditutup dengan kolaborasi antara santri dan dewan pengajar membawakan lagu legendaris Rumah Kita. Lagu itu menjadi penegas bahwa Santri Laju adalah rumah bersama, tempat ilmu, seni, dan pengabdian bertumbuh dalam harmoni.
“Rumah Kita adalah simbol Santri Laju. Ketika ilmu, seni, dan pengabdian bertemu, pesantren bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah yang menumbuhkan harapan bagi setiap santri,” tegas Abdul Muis atau Gus Muis, Pembina Santri Laju Madrasah Budaya Pungkuran.
Menurut Gus Muis, Santri Laju lahir dari ikhtiar menghidupkan kembali tradisi pendidikan pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama dan akhlak, tetapi juga mengembangkan keterampilan sesuai bakat setiap santri. Seluruh proses pembelajaran dijalankan tanpa biaya, sementara para pengajar mengabdikan diri secara sukarela sebagai bentuk sedekah ilmu.
“Ilmu akan menemukan kemuliaannya ketika dibagikan. Karena itu Santri Laju kami hadirkan gratis agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena keterbatasan biaya,” ujarnya.
Kepala Program Santri Laju, Agus Setiawan, mengatakan setiap anak memiliki potensi yang berbeda sehingga pendidikan di Madrasah Budaya dirancang untuk memberi ruang bagi seluruh kemampuan tersebut.
“Yang kami tumbuhkan bukan hanya kecakapan membaca kitab, tetapi juga keberanian bermimpi, berkarya, dan memberi manfaat bagi sesama,” katanya.
Baca Juga:ITSNU Pekalongan Kick Off S1 Bisnis Digital dan Soft Launching 2 Prodi Baru, Cetak SDM UnggulKEK Industropolis Batang Tutup PRIMA 2026, Siapkan SDM Unggul Menuju Shenzhen Indonesia
Tingginya antusiasme masyarakat mendorong Madrasah Budaya membuka pendaftaran Santri Laju angkatan kedua. Hingga awal Juli, lebih dari 40 calon santri telah mendaftarkan diri. Program pendidikan pesantren nonmukim ini menjadi alternatif bagi keluarga yang menginginkan pendidikan pesantren tanpa harus tinggal di asrama, sekaligus menghadirkan model pendidikan yang memadukan nilai keislaman, seni, budaya, dan keterampilan secara utuh. (fur)
