PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan berkolaborasi dengan Forum Anak setempat menggelar kegiatan edukatif untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak selama masa liburan sekolah. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata menekan ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai (gadget) yang kian tinggi di tengah derasnya arus digitalisasi.
Dalam kegiatan yang berlangsung meriah tersebut, anak-anak diperkenalkan dengan beragam permainan edukatif dan tradisional. Mulai dari ular tangga edukatif, congklak, catur, lompat tali, ular naga, angklung, mewarnai dengan teknik gradasi, hingga sesi bercerita menggunakan boneka tangan.
Setiap permainan dipilih karena memiliki nilai edukasi yang kuat bagi tumbuh kembang anak, baik dari segi kognitif, motorik, maupun sosial.
Baca Juga:Tiga Kotak Amal Masjid An Nur Kaliwungu Permai Digasak Maling, Aksi Pelaku Terekam CCTVHasil Observasi Dokter Jiwa: Pelaku Penusukan Maut di Tratebang Alami Gangguan Jiwa
Ketua Forum Anak Kota Pekalongan, Nessa Putri Amalia, menjelaskan bahwa seluruh permainan yang disiapkan sengaja dipilih karena memiliki nilai edukasi yang kuat bagi tumbuh kembang anak.
Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan contoh kepada anak-anak bahwa waktu luang dapat diisi dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat.
“Kami ingin memberikan contoh bahwa waktu luang dapat diisi dengan kegiatan yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Permainan-permainan ini juga dapat dimainkan kembali di rumah karena mampu melatih kemampuan berpikir, motorik, serta mendorong anak lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya,” kata Nessa.
Tantangan era digital diakui menjadi pemicu utama asingnya permainan tradisional di mata generasi muda saat ini. Anak-anak zaman sekarang lebih akrab dengan layar ponsel dan gawai dibandingkan dengan mainan tradisional yang dimainkan secara kolektif dan melibatkan interaksi fisik.
Koordinator Klaster III Forum Anak Kota Pekalongan, Ahmad Aulia A-Faqih, menilai bahwa anak-anak zaman sekarang bukannya tidak suka dengan permainan tradisional, melainkan kekurangan fasilitas dan ruang untuk bermain bersama.
Minimnya sarana dan kurangnya pengenalan dari lingkungan sekitar membuat permainan tradisional semakin tergerus oleh kemajuan teknologi.
“Anak-anak sebenarnya tertarik memainkan permainan tradisional, hanya saja saat ini mereka terkendala minimnya sarana dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai. Melalui kegiatan ini kami berharap dapat menumbuhkan kembali kebiasaan bermain bersama sehingga rasa solidaritas, kerja sama, dan kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya semakin meningkat,” ungkap Ahmad.
