Harga Beras di Kendal Tembus Rp16 Ribu per Kg, Panen Menyusut Jadi Pemicu

Harga Beras di Kendal Tembus Rp16 Ribu per Kg, Panen Menyusut Jadi Pemicu
ABDUL GHOFUR. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kendal, Pandu Rapriat Rogojati
0 Komentar

KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Harga beras di Kabupaten Kendal mengalami kenaikan seiring dengan menyusutnya hasil panen di sejumlah wilayah. Saat ini, harga beras bervariasi di kisaran Rp14 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan lokasi penjualan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, menyebutkan bahwa kenaikan harga tersebut merupakan konsekuensi logis dari terbatasnya pasokan akibat musim panen yang tidak maksimal.

“Karena yang panen sedikit, otomatis berlaku hukum supply and demand. Harganya cukup mahal. Tapi untuk saat ini masih terkendali,” ujar Pandu saat ditemui di kantornya, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga:Kekeringan Landa 511 Hektare Lahan Pertanian di Batang, 153 Hektare Gagal PanenKarnaval Boja Meriah, SMK Muhammadiyah 2 Angkat Budaya Toraja dengan 800 Siswa

Meski harga mulai merangkak naik, pemerintah daerah memastikan kondisi ini masih dalam batas wajar dan belum masuk kategori darurat pangan. Sebagai langkah preventif, Pemkab Kendal telah menyalurkan bantuan pangan berupa beras kepada masyarakat penerima manfaat. Langkah ini diharapkan mampu menekan permintaan pasar sekaligus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Pandu menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam apabila harga beras terus melonjak. Jika bantuan pangan dinilai belum cukup efektif, operasi pasar akan segera digelar bekerja sama dengan Perum Bulog maupun pihak lain di wilayah yang mengalami kenaikan harga signifikan.

“Kalau bantuan pangan ini masih belum cukup untuk menstabilkan, nanti akan kita bantu dengan operasi pasar. Kita akan bekerja sama dengan Bulog atau pihak lain di wilayah yang kenaikannya cukup signifikan,” tegasnya.

Pandu memastikan beras yang disalurkan sebagai bantuan merupakan beras medium dan berasal dari produksi lokal. Kebijakan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasokan pangan di daerah serta mendukung petani setempat.

“Berasnya medium dan lokal, bukan dari luar. Jadi aman, tetap kita kendalikan,” ujarnya.

Di sisi lain, sektor pertanian Kendal masih menghadapi ancaman organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama hama tikus. Namun, Pandu memastikan serangan tersebut masih dalam tahap relatif kecil dan belum berdampak pada gagal panen.

“Serangan tikus ada, tetapi relatif kecil. Tidak sampai mengganggu hasil panen hingga puso atau gagal panen. Hanya ada pengurangan hasil,” jelas Pandu.

0 Komentar