Kekeringan Landa 511 Hektare Lahan Pertanian di Batang, 153 Hektare Gagal Panen

Kekeringan Landa 511 Hektare Lahan Pertanian di Batang, 153 Hektare Gagal Panen
M. DHIA THUFAIL. KETERANGAN PERS - Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pangan, Pertanian, dan Perkebunan (Disparperta) Kabupaten Batang Rini Diana Anggraini saat memberikan keterangan pada awak media.
0 Komentar

BATANG, RADARPEKALONGAN.ID – Musim kemarau tahun ini memberikan tekanan berat terhadap sektor pertanian di Kabupaten Batang. Dinas Pangan, Pertanian, dan Perkebunan (Disparperta) mencatat sedikitnya 511 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan, dengan 153 hektare di antaranya mengalami gagal panen atau puso.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Disparperta Kabupaten Batang, Rini Diana Anggraini, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah merespons kondisi ini dengan menyalurkan 114 unit pompa air kepada kelompok tani. Bantuan tersebut berasal dari Kementerian Pertanian dan didistribusikan berdasarkan pemetaan wilayah yang mengalami kekeringan parah.

“Ini adalah salah satu upaya intervensi kita kepada petani dalam rangka penanganan kekeringan yang ada di wilayah Kabupaten Batang,” ujar Rini saat memberi keterangan pers, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga:Karnaval Boja Meriah, SMK Muhammadiyah 2 Angkat Budaya Toraja dengan 800 SiswaPolres Kendal Peringatkan Sanksi Pidana bagi Pengendara Nekat Terobos Palang Kereta Api

Menurut data dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Kecamatan Kandeman, Batang, dan Gringsing menjadi wilayah dengan luasan terdampak paling besar. Sementara kecamatan lain mulai merasakan dampak namun masih dalam skala titik-titik tertentu yang relatif dapat dikelola bersama petani.

“114 unit itu nanti dibagi ke seluruh kelompok tani yang menjadi penerima. Penerima itu mereka yang kita petakan titik-titik lokasi yang mengalami kekeringan,” jelas Rini.

Pemkab Batang terus melakukan pemantauan dan pemetaan berkala guna memastikan bantuan pengairan tepat sasaran dan segera diarahkan ke lahan yang paling membutuhkan.

Salah satu petani yang merasakan dampak langsung adalah Ahmad Rafik dari Desa Sidoharjo, Kecamatan Gringsing. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 45 hektare lahan yang dikelolanya mengalami kekeringan sejak Juli 2026.

“Yang kering itu sekitar 45 hektare. Untuk yang saya tangani sendiri yang kering 45 hektare,” ungkap Ahmad.

Untuk bertahan di tengah keterbatasan air, para petani setempat melakukan berbagai upaya mandiri, seperti memanfaatkan aliran sungai besar dengan membuat saluran air dan bendung kecil secara gotong royong. Mereka juga membuat lubang penampungan air di sekitar lahan sebagai cadangan ketika kebutuhan pengairan meningkat.

Kehadiran pompa air dari pemerintah pun disambut positif oleh Ahmad. “Alhamdulillah Mas, sangat membantu adanya bantuan seperti ini, membantu pengairan persawahan,” katanya.

Baca Juga:Musim Panen Tembakau, Lapangan Sepak Bola Tunggul Agung Disulap Jadi Tempat Penjemuran AndalanHakim MK Arsul Sani Soroti IPM Kabupaten Pekalongan yang Masih di Bawah 10 Besar Jateng

Pompa air dinilai sangat krusial, terutama ketika pasokan dari saluran irigasi tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman. Sebelumnya, pompa serupa juga telah dimanfaatkan petani untuk mengairi tanaman cabai dan bawang merah di wilayah Tegal Suro. (fel)

0 Komentar