Musim Panen Tembakau, Lapangan Sepak Bola Tunggul Agung Disulap Jadi Tempat Penjemuran Andalan

Musim Panen Tembakau, Lapangan Sepak Bola Tunggul Agung Disulap Jadi Tempat Penjemuran Andalan
ABDUL GHOFUR. JEMUR TEMBAKAU - Jemuran tembakau kering di atas rigen hampir menutupi lapangan sepak bola Tunggul Agung, Desa Kebonagung, Kecamatan Ngampel, Selasa (25/8/2026).
0 Komentar

KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Terik matahari di musim kemarau menjadi berkah bagi petani tembakau di Desa Kebonagung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Namun, luasnya lahan penjemuran kerap menjadi kendala. Untuk mengatasi hal itu, petani memanfaatkan Lapangan Sepak Bola Tunggul Agung sebagai area menjemur tembakau rajangan hingga kering.

Salwi (64), salah satu petani setempat, mengaku rutin menggunakan lapangan tersebut setiap musim panen tiba. Rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter dari lapangan memudahkan mobilitasnya mengangkut tembakau rajangan.

“Jarak rumah saya dengan lapangan sekitar 200 meter. Ketika saya ngerajang, selalu memanfaatkan lapangan untuk menjemur tembakau rajangan,” ujar Salwi, Selasa (25/8/2026).

Baca Juga:Kuota Nikah Maulid Kanzus Sholawat Pekalongan Masih Tersisa 16 Pasangan, Pendaftaran hingga 15 SeptemberSinergi TNI-Polri dan Pemkot Pekalongan Gelar Karya Bakti di Gereja Santo Petrus, Wujud Toleransi dan Kebersam

Menurutnya, tembakau rajangan basah yang sudah diler di atas rigen membutuhkan area luas dengan paparan sinar matahari langsung. Untuk satu keranjang tembakau kering, saat masih berupa rajangan basah, diperlukan sekitar 80 hingga 90 rigen.

Dengan ukuran setiap rigen 90 sentimeter x 200 sentimeter, kebutuhan area penjemuran mencapai sekitar 150 meter persegi. Luas lapangan yang tersedia menjadi solusi paling praktis.

Salwi menjelaskan, menjemur tembakau di depan rumah atau di pinggir jalan justru berisiko mengganggu pengguna jalan. Selain itu, debu kendaraan yang beterbangan dapat menempel pada tembakau dan menurunkan kualitas serta harga jual.

“Kalau dijemur di lapangan selain tidak mengganggu, hampir tidak ada debu yang menempel di tembakau. Lapangan juga selama musim tembakau tidak digunakan untuk latihan,” terangnya.

Koordinator Pengelola Lapangan Sepak Bola Tunggul Agung, Wakhidun, mengatakan lapangan tersebut mampu menampung sekitar 3.500 rigen atau setara dengan 35 keranjang tembakau. Pihaknya memungut biaya sewa sebesar Rp15 ribu per keranjang.

“Satu keranjang tembakau kering biasanya 80-100 rigen. Kami mematok Rp15 ribu,” tegas Wakhidun.

Dari penyewaan tersebut, pengelola dapat memperoleh pendapatan lebih dari Rp500 ribu dalam sehari. Dana yang terkumpul digunakan untuk perawatan lapangan, mulai dari pemotongan rumput, perawatan gawang, pengecatan garis lapangan, hingga mengundang tim untuk latihan bersama.

Baca Juga:Tradisi Weh-Wehan Kaliwungu Didorong Masuk Kalender Event Nasional, Bupati: Warisan Leluhur yang Tak TernilaiKapolresta Batang Imbau Warga Tetap Tenang Hadapi Rencana Aksi 27 Agustus di Jakarta

Wakhidun menambahkan, lapangan dapat dimanfaatkan sebagai tempat penjemuran selama sekitar dua bulan pada puncak musim tembakau. Meski demikian, pengelola tetap memberlakukan aturan tegas, yakni melarang warga menggembala kambing, domba, maupun sapi di area lapangan untuk menjaga kebersihan sekaligus mencegah kerusakan rumput. (fur)

0 Komentar