KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Pemerintah Kabupaten Kendal mengusulkan tradisi Weh-Wehan di Desa Krajankulon, Kecamatan Kaliwungu, untuk masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Langkah ini diambil agar warisan budaya leluhur tersebut dapat dikenal lebih luas dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyampaikan hal itu saat menghadiri gelaran tradisi tahunan tersebut pada Senin (24/8/2026) sore. Menurutnya, Weh-Wehan mengandung nilai sosial yang mendalam, terutama semangat berbagi, mempererat silaturahmi, dan menjaga kerukunan di antara warga.
“Tradisi Weh-Wehan ini merupakan warisan leluhur yang tidak ternilai harganya. Sudah menjadi tugas kita bersama untuk melestarikannya,” ujar Dyah.
Baca Juga:Kapolresta Batang Imbau Warga Tetap Tenang Hadapi Rencana Aksi 27 Agustus di JakartaBupati Kendal Naik Odong-odong, Karnaval HUT RI Makin Merakyat dan Semarak
Ia menilai, bertahannya tradisi ini di tengah gempuran modernisasi menunjukkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga akar budaya. Karena itu, pelestarian perlu diiringi dengan pengembangan agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.
“Nantinya tradisi Weh-Wehan ini tidak hanya dikenal di Kendal. Dengan masuk Karisma Event Nusantara, daerah-daerah lain akan mengetahui bahwa di Kaliwungu ada tradisi Weh-Wehan,” katanya.
Pemkab Kendal juga berencana mengemas Weh-Wehan menjadi even yang lebih besar tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya. Pengembangan ini diharapkan mampu mendorong sektor pariwisata sekaligus memberdayakan UMKM lokal.
“Ke depan mungkin kita adakan event besar, agar tradisi Weh-Wehan bukan hanya sekadar silaturahmi dan berbagi, tetapi juga meningkatkan pariwisata, pemberdayaan UMKM, dan kegiatan positif lainnya,” tegasnya.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kendal Achmad Ircham Chalid membenarkan bahwa proses pendaftaran ke program KEN telah dilakukan. Tahap pendaftaran berlangsung pada Agustus hingga September, sebelum memasuki masa kurasi.
“Mudah-mudahan nanti bisa masuk sebagai salah satu event Karisma Event Nusantara,” ujarnya.
Jika lolos kurasi, Weh-Wehan akan tercantum dalam kalender event nasional, sehingga peluang promosi lintas daerah semakin terbuka. Konsistensi pelaksanaan tradisi ini setiap tahun pada tanggal 11 Rabiul Awal sore menjelang 12 Rabiul Awal menjadi salah satu nilai lebih yang dipertimbangkan.
Baca Juga:Semarak Agustusan, Sendangdawung Hadirkan 6 Agenda Budaya dari Tasyakuran hingga Konser DangdutPORPI Kota Pekalongan Gencarkan Senam Pernapasan Massal, Edukasi Hidup Sehat di HUT RI ke-81
Kepala Desa Krajankulon Abdul Latif menjelaskan, Weh-Wehan identik dengan hidangan khas bernama sumpil, yakni makanan sederhana yang dibungkus dengan daun bambu. Makanan ini dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai simbol kebersamaan.
