Tradisi Weh-Wehan Kaliwungu Didorong Masuk Kalender Event Nasional, Bupati: Warisan Leluhur yang Tak Ternilai

Tradisi Weh-Wehan Kaliwungu Didorong Masuk Kalender Event Nasional, Bupati: Warisan Leluhur yang Tak Ternilai
ABDUL GHOFUR. BERBAGI - Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyerahkan makanan kepada warga dalam tradisi Weh-Wehan di Desa Krajankulon, Kaliwungu, Senin (24/8/2026), sebagai wujud silaturahmi dan pelestarian budaya leluhur.
0 Komentar

“Bermacam-macam makanan dibagikan kepada tetangga. Tetapi makanan khasnya adalah sumpil. Bahannya mudah didapat karena kita mengoptimalkan apa yang ada di lingkungan sekitar,” katanya.

Ia menambahkan, tradisi ini awalnya tumbuh di sekitar Masjid Besar Al-Muttakin, Krajankulon, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai desa di Kecamatan Kaliwungu.

Sumpil memiliki filosofi turun-temurun yang dalam. Secara bahasa, sumpil dimaknai sebagai “semelehno uripmu marang Pangeran ingkang Langgeng”, yang berarti menyerahkan hidup kepada Tuhan Yang Mahakekal. Bentuk segitiganya melambangkan tiga relasi fundamental manusia, yakni hubungan kepada Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

Baca Juga:Kapolresta Batang Imbau Warga Tetap Tenang Hadapi Rencana Aksi 27 Agustus di JakartaBupati Kendal Naik Odong-odong, Karnaval HUT RI Makin Merakyat dan Semarak

“Dalam kehidupan kita harus bermuamalah kepada Allah, kepada sesama manusia, dan juga kepada alam semesta,” jelas Abdul Latif.

Ia juga menuturkan bahwa bentuk perayaan Weh-Wehan telah beradaptasi dengan perkembangan zaman. Jika dahulu masyarakat menggunakan teng-teng dan lampu minyak tanah, kini mereka lebih banyak memakai lampion serta lampu warna-warni untuk meramaikan suasana.

“Ini peninggalan sejarah. Tidak mungkin orang-orang dulu memberikan budaya yang tidak baik. Generasi sekarang harus terus diajari untuk saling berbagi dengan tetangga,” pungkasnya. (fur)

0 Komentar