RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Sanggar Tari Sukoreno yang berlokasi di Desa Purwokerto, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, kembali menunjukkan eksistensinya usai melewati masa vakum. Berbekal semangat pelestarian seni budaya tradisional dan strategi manajerial yang adaptif, sanggar ini berhasil bangkit di tengah perubahan zaman.
Berpusat di Jalan Merpati Kulon Nomor 34, sanggar yang telah berdiri sejak belasan tahun silam ini sebelumnya sempat menghentikan aktivitas latihan terpusat. Para pengelolanya kala itu lebih memilih fokus pada bisnis penyewaan kostum serta melayani mobilitas pelatihan di berbagai tempat luar, yang pada akhirnya justru dinilai tidak efektif.
“Kami kecapekan melayani latihan di beberapa tempat, pulangnya sering habis maghrib,” ujar Siti Sukayati, pemilik Sanggar Tari Sukoreno, Ahad, 19 April 2026.
Baca Juga:Menyentuh Suasana Haru Pecah! Wali Kota Pekalongan Lepas 67 Jamaah Haji KBIHU Aisyiyah, Titip Pesan MenyentuhReaktivasi Stasiun Plabuan Batang 27 April 2026, KAI Permudah Akses Pekerja KITB
Secara manajerial, roda operasional sanggar ini digerakkan dengan asas kekeluargaan oleh dua pelatih inti, yakni Siti Sukayati dan Yulvina Inanda yang berfokus pada pengembangan kurikulum serta pelatihan. Sementara itu, urusan promosi pemasaran dan pengelolaan media sosial ditangani oleh Kusdewa Iman.
Titik balik kebangkitan Sukoreno secara terpusat dimulai sekitar delapan tahun lalu, usai pihak pengelola secara resmi mengantongi izin dari dinas terkait. Yulvina menyebut momentum tersebut menjadi tonggak untuk menghidupkan kembali fungsi sanggar sebagai ruang pelestarian tradisi.
“Kami ingin hadir di tengah masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga budaya Indonesia,” kata Yulvina.
Menjaga Pakem Tradisional dan Berekspansi
Menurut Yulvina, seni tari bukan sebatas tontonan hiburan, melainkan wujud identitas bangsa yang sarat akan nilai luhur. Di tengah masifnya gempuran tren tari modern dan kontemporer, Sukoreno konsisten merawat pakem tradisional sembari tetap membuka ruang bagi inovasi.
Dari segi peluang usaha, sanggar ini tidak sekadar membuka kelas kursus. Mereka aktif berekspansi melayani persewaan kostum hingga menyediakan jasa pementasan tari untuk berbagai hajat, mulai dari acara peresmian, pra-acara, hingga resepsi pernikahan.
“Kami siap menyesuaikan permintaan konsumen, baik penari dari kami maupun dari pihak penyelenggara,” jelas Siti Sukayati yang akrab disapa Yati.
Saat ini, kegiatan latihan rutin kembali digelar setiap pekan. Meski mayoritas pesertanya didominasi anak-anak, kelas ini terbuka untuk berbagai usia. Proses kurikulum dimulai dari fondasi dasar tari, seperti wiraga, keselarasan gerak dengan ritme musik, hingga pemahaman penghayatan peran.
