RADARPEKALONGAN.ID – Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) kembali menjadi sorotan setelah muncul peringatan terkait potensi penurunan produksi listrik akibat fenomena El Nino.
Kondisi cuaca ekstrem ini diprediksi dapat mengurangi debit air secara signifikan, sehingga berdampak langsung pada kemampuan pembangkit dalam menghasilkan energi listrik.
Seorang akademisi dari Universitas Hasanuddin menyampaikan bahwa dalam kondisi kemarau panjang, produksi listrik dari PLTA bahkan bisa turun hingga 75 persen.
Baca Juga:Penggunaan BBM Sembarangan yang Tidak Sesuai Rasio Kompresi Mesin Bisa Merusak Kendaraan! Ini PenjelasannyaSelain PLTU, Ini Pembangkit Listrik di Indonesia yang Perlu Kamu Tahu! Lengkap dengan Lokasi Sebarannya!
Hal ini menjadi perhatian serius karena peran PLTA cukup besar dalam sistem kelistrikan, khususnya di wilayah Sulawesi bagian selatan.
Dalam sistem interkoneksi Sulawesi Selatan, sekitar 40 persen kebutuhan listrik masih bergantung pada pembangkit berbasis air.
Ketika debit air menurun, otomatis kapasitas produksi listrik ikut tertekan, sehingga berpotensi memicu gangguan pasokan.
Ketergantungan Tinggi pada Air Jadi Tantangan Utama
PLTA dikenal sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Namun, di balik keunggulan tersebut, terdapat kelemahan utama yaitu ketergantungan pada ketersediaan air.
Ketika musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya, bendungan dan aliran sungai tidak mampu memasok air dalam jumlah optimal.
Beberapa pembangkit besar seperti PLTA Poso, Bakaru, dan Malili selama ini menjadi tulang punggung pasokan listrik di wilayahnya.
Namun, pembangkit tersebut sangat rentan terhadap perubahan iklim. Penurunan debit air bukan hanya mengurangi produksi listrik, tetapi juga meningkatkan risiko ketidakseimbangan pasokan dan permintaan energi.
Baca Juga:Jika BBM Langka di Indonesia Apa Akibatnya? Ini Dampak Nyata yang Bisa Langsung Kamu Rasakan!BBM Subsidi Jadi Rebutan Tahun 2026? Ini Alasan Kenapa Masyarakat Mampu Diminta Tidak Beralih dari Non-Subsidi
Dalam kondisi ekstrem, jika pasokan listrik tidak mencukupi dan pembangkit dipaksa bekerja di luar kapasitas, risiko pemadaman total atau blackout bisa terjadi.
Situasi ini tentu berdampak luas, mulai dari sektor industri hingga aktivitas masyarakat sehari-hari.
Sistem Kelistrikan Masih Memiliki Cadangan Energi
Meski PLTA menghadapi tekanan, sistem kelistrikan di Sulawesi Selatan dinilai masih cukup aman untuk saat ini.
Hal ini karena wilayah tersebut tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit.
Selain PLTA, terdapat juga pembangkit berbasis batu bara, gas, serta energi terbarukan lainnya seperti angin dan tenaga surya.
Total kapasitas listrik yang tersedia mencapai sekitar 2.300 MW, sementara kebutuhan puncak berkisar antara 1.300 hingga 1.700 MW.
