RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Petani bawang merah di Kabupaten Kendal dibikin pusing tujuh keliling! Pasalnya, pola tanam yang acak-acakan alias tidak serempak antarwilayah kini menjadi ancaman serius yang bisa bikin harga panen terjun bebas di tingkat petani. Beda ketersediaan air dan kondisi lahan jadi biang kerok utamanya!
Ketua Gapoktan Krompakan Makmur, Zaim Hasan, blak-blakan mengungkap kondisi di lapangan. Menurutnya, petani di Desa Krompakan, Kecamatan Gemuh sebenarnya bisa panen tiga sampai empat kali setahun. Sayangnya, untuk urusan tanam serempak, mereka masih kelabakan!
“Ada selisih satu sampai dua minggu. Penyebabnya mulai dari keterbatasan modal, ketersediaan bibit, sampai biaya perawatan,” beber Zaim mengungkap akar masalahnya, Senin (27/4/2026).
Baca Juga:Meriahkan Hari Kartini, Ratusan Siswa PAUD Annisa Pekalongan Gelar Karnaval Mobil HiasGeger Penemuan 2 Mayat Pria Tanpa Identitas di Kaliwungu Kendal dalam Sehari
Zaim menegaskan, urusan dompet alias modal jadi kendala paling krusial. Petani yang kehabisan napas modal terpaksa menyewakan lahannya atau banting setir menanam jagung. Idealnya, Oktober adalah bulan emas untuk menanam karena sepi hama. Tapi apa daya, musim kemarau bikin pasokan air seret!
Parahnya lagi, peralihan musim saat ini memicu serangan hama dan penyakit yang bikin kualitas bawang merosot tajam, sehingga terpaksa dijual murah. Zaim pun mendesak pemerintah agar tak tinggal diam dan segera turun tangan mengamankan harga pasar!
Penebas Ikut Ketar-ketir, Pemda Mengaku Tak Bisa Intervensi Harga!
Kecemasan tak cuma dirasakan petani, tapi juga para penebas! Rustam, seorang penebas bawang merah yang sudah malang melintang selama 13 tahun, mengaku harus putar otak dan berhitung ekstra ketat sebelum memborong panenan warga.
“Semua sudah dihitung. Tapi harga jual di luar daerah seperti Jakarta atau Medan belum bisa dipastikan. Harapannya tetap ada margin,” keluh Rustam.Rustam sangat berharap ada ketegasan aturan soal pola tanam yang terkoordinasi, ketersediaan gudang penyimpanan, hingga transparansi harga.
“Supaya saat panen raya harga tidak anjlok, petani tetap untung, dan penebas juga tidak merugi,” tegasnya mewakili jeritan pelaku pasar.
Lantas, bagaimana respons Pemkab Kendal? Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, tak menampik adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang bikin petani menjerit.
