RADARPEKALONGAN.ID, Pekalongan — Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pertanian dan Pangan bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat meluncurkan proyek penanaman perdana padi biosalin. Agenda agro-inovasi ini dipusatkan di Kampung Reforma Agraria Clumprit, Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara.
Langkah taktis tersebut diambil sebagai stimulan awal untuk mereklamasi dan mengembalikan fungsi lahan pertanian produktif. Kawasan pesisir ini tercatat telah belasan tahun mati suri akibat kerusakan ekosistem lokal yang dipicu oleh rendaman banjir rob berkepanjangan.
Penyuluh Pertanian Wilayah Pekalongan Utara, Lazim Sofi, menjelaskan bahwa kultivasi varietas biosalin di Clumprit merupakan sejarah baru bagi kawasan tersebut. Proyek ini memecah kebuntuan setelah hampir 17 tahun hamparan sawah di utara Pekalongan itu tidak dapat digarap oleh para petani.
Baca Juga:Tiba di Indonesia, Lima Jemaah Haji Kloter 19 Kendal Langsung Dievakuasi Ambulans ke Rumah SakitSambut Kepulangan Jemaah Haji, Plt Bupati Pekalongan Sukirman Instruksikan Pemantauan Kesehatan
“Lahan yang saat ini ditanami seluas kurang lebih 1 hektare dan dijadikan sebagai demplot atau lahan percontohan. Harapannya, apabila budidaya padi biosalin ini berhasil, petani di wilayah Clumprit dan Degayu dapat kembali menanam padi di lahan sawah mereka,” ujar Lazim Sofi saat memberikan konfirmasi, Rabu, 10 Juni 2026.
Lazim memaparkan, klaster Clumprit sebenarnya masih menyimpan deposit area persawahan potensial yang cukup luas. Otoritas mencatat sedikitnya ada sekitar 50 hektare lahan tidur yang hingga kini mangkrak akibat genangan air asin berlebih serta lumpuhnya infrastruktur penunjang produksi.
Kendati demikian, implementasi di lapangan masih membentur dinding kendala topografi pesisir. Masih tingginya debit genangan di sejumlah titik kritis dinilai menjadi faktor penghambat utama yang memperlambat traksi mekanisasi mesin pertanian.
Oleh sebab itu, dinas terkait mendesak adanya keterlibatan lintas sektor dari para pemangku kebijakan. Intervensi yang mendesak diperlukan meliputi normalisasi saluran irigasi sekunder, penataan sistem pompa pengendali rob, hingga suplai alat mesin pertanian (alsintan) khusus seperti traktor amfibi.
“Apabila genangan dapat diatasi, saluran irigasi dibenahi, dan petani mendapatkan dukungan sarana prasarana yang memadai, insyaallah sekitar 50 hektare lahan sawah di wilayah Clumprit dapat kembali ditanami,” kata Lazim menambahkan optimisme program.
Melalui skema percontohan varietas padi tahan salinitas tinggi ini, Pemkot Pekalongan bersama BPN memproyeksikan kebangkitan kedaulatan pangan berbasis komunitas urban di pesisir. Integrasi ini juga diarahkan untuk memperkokoh legalitas lahan di Kampung Reforma Agraria sekaligus meredam laju krisis pangan akibat dampak nyata perubahan iklim global. (nul)
