3.096 Anak di Batang Putus Sekolah, Disdikbud Soroti Faktor Lingkungan dan Pola Asuh

3.096 Anak di Batang Putus Sekolah, Disdikbud Soroti Faktor Lingkungan dan Pola Asuh
NOVIA ROCHMAWATI BERI KETERANGAN - Kepala Disdikbud Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, saat memberikan keterangan terkait tingginya angka putus sekolah di Kabupaten Batang.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Angka putus sekolah di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, masih menjadi pekerjaan rumah yang serius bagi pemerintah daerah. Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, tercatat sebanyak 3.096 siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat memutuskan berhenti menimba ilmu hingga 27 April 2026.

Kepala Disdikbud Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, merinci angka tersebut terdiri atas 551 siswa SD, sekitar 1.400 siswa SMP, dan 1.145 siswa jenjang SMA/SMK.

“Data ini masih bersifat sementara karena bersumber dari Dapodik dan belum seluruhnya diverifikasi langsung ke sekolah,” kata Bambang saat memberikan keterangan, Selasa, 28 April 2026.

Baca Juga:Ekonomi Kendal Melaju 7,99 Persen, DPRD Soroti Ketimpangan dan Dominasi Kawasan IndustriAwal 2026, 7 Kasus Kekerasan Seksual Anak Guncang Batang, Mayoritas Berawal dari Rayuan Medsos

Meski angkanya terbilang tinggi, Bambang mengklaim tren anak putus sekolah di wilayahnya mulai memperlihatkan kurva penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurutnya, sejumlah siswa yang sempat berhenti sekolah akhirnya bersedia kembali ke kelas berkat pendekatan persuasif dari pihak institusi pendidikan, termasuk melalui program kunjungan langsung (jemput bola) ke rumah siswa.

Faktor Pemicu: Bukan Sekadar Masalah Ekonomi

Lebih jauh, Bambang membedah akar permasalahan dari fenomena ini. Ia tak menampik bahwa keterbatasan ekonomi masih menjadi salah satu faktor dominan. Namun, ia menekankan bahwa persoalan putus sekolah tidak bisa dipukul rata hanya dari kacamata finansial.

“Bukan hanya ekonomi, tapi juga kesadaran orang tua dan lingkungan sangat berpengaruh,” ujarnya memaparkan.

Faktanya, Disdikbud menemukan tidak sedikit kasus anak putus sekolah justru berasal dari keluarga yang tergolong mapan secara ekonomi. Permasalahan utamanya bermuara pada minimnya perhatian terhadap hak pendidikan anak akibat disfungsi keluarga.

“Ada keluarga yang mampu, tapi karena kondisi rumah tangga tidak harmonis, anak jadi kurang mendapat perhatian,” ucap Bambang menegaskan.

Di sisi lain, tantangan terberat datang dari lingkungan pergaulan sosial anak. Kebiasaan negatif seperti sering terjaga hingga larut malam (begadang) dan pergaulan yang tidak kondusif perlahan mengikis motivasi belajar para siswa.

“Kalau sudah terbiasa begadang, bangunnya siang dan akhirnya malas sekolah. Ini pengaruh lingkungan yang sangat kuat,” kata dia.

Baca Juga:Keren Parah! Sabet Juara Umum LOBB 2026, SMKN 1 Warungasem Bakal Wakili Batang ke Tingkat ProvinsiPeringati Hari Bakti Pemasyarakatan Ke-62, Lapas Pekalongan Beri Penghargaan Sederet Mitra Strategis

Bambang memungkasi bahwa keberhasilan ekosistem pendidikan sangat bergantung pada kolaborasi holistik antara pihak sekolah, orang tua, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Tanpa dukungan dari ranah domestik, ikhtiar sekolah akan berakhir sia-sia.

0 Komentar