RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Upaya memupuk kemandirian pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sejatinya dapat diinisiasi melalui rutinitas sederhana di lingkungan sehari-hari. Pendekatan ini secara aktif dipraktikkan oleh Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), yang mengajarkan para peserta didiknya untuk mencuci piring secara mandiri usai makan sebagai bagian integral dari program bina diri.
Langkah edukatif tersebut dirancang khusus guna menanamkan rasa tanggung jawab anak sejak usia dini. Selama ini, rutinitas keseharian siswa ABK kerap bergantung pada bantuan atau pelayanan orang lain. Melalui praktik langsung ini, mereka mulai dikenalkan pada kewajiban dasar untuk membereskan peralatan makan pribadi yang telah digunakan.
Guru Pendamping Khusus SKB, Anggraini Nur Millati, menjelaskan bahwa proses pembelajaran kecakapan hidup ini dilakukan secara bertahap dengan pendampingan melekat. Para siswa diajarkan tahapan dasar yang terstruktur, mulai dari teknik membilas, penggunaan sabun pembersih, hingga menata kembali piring yang telah bersih ke tempat semula.
Baca Juga:Ekonomi Kendal Melaju 7,99 Persen, DPRD Soroti Ketimpangan dan Dominasi Kawasan IndustriAwal 2026, 7 Kasus Kekerasan Seksual Anak Guncang Batang, Mayoritas Berawal dari Rayuan Medsos
“Kami ingin anak-anak terbiasa bahwa piring dan gelas yang mereka pakai adalah tanggung jawab mereka juga,” ujar Anggraini saat mendampingi para siswa di SKB.
Manfaat Ganda: Kecakapan Hidup dan Stimulasi Sensorik
Di samping mengasah kecakapan hidup (life skill), aktivitas mencuci piring ternyata memberikan manfaat stimulasi sensorik yang signifikan bagi tumbuh kembang ABK. Interaksi langsung dengan medium air, busa sabun, dan ragam tekstur peralatan makan sangat membantu proses adaptasi bagi anak-anak yang memiliki tingkat sensitivitas tertentu.
“Anak-anak terlihat senang karena bisa langsung praktik. Ini juga jadi pengalaman baru bagi mereka,” tuturnya menambahkan.
Sejauh ini, implementasi program bina diri tersebut telah menunjukkan dampak positif. Para siswa ABK mulai berani mencoba melakukan aktivitas mandiri meski masih berada di bawah pengawasan tenaga pendidik.
Anggraini berharap kebiasaan positif yang telah dibangun di sekolah ini tidak terhenti begitu saja. Ia mengimbau agar para orang tua turut mendukung dan mengimplementasikan pembiasaan serupa di rumah, sehingga perkembangan kemandirian anak dapat berjalan semakin optimal.
“Tidak harus langsung bisa, yang penting dibiasakan. Dengan pendampingan, anak akan berkembang,” kata Anggraini memungkasi. (mal)
