RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menyoroti tren mengkhawatirkan terkait kasus kematian ibu. Berdasarkan catatan otoritas kesehatan setempat, mayoritas insiden fatal tersebut justru terjadi pada masa kehamilan, bukan saat proses persalinan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Batang, Setiyowati, membeberkan bahwa sepanjang tahun 2025 tercatat ada 10 kasus kematian ibu di wilayahnya. Sebagian besar kasus tersebut dipicu oleh riwayat penyakit penyerta atau komorbid yang telah diderita oleh pasien sebelum mengandung.
“Sebagian besar bukan karena proses persalinan, tapi saat kehamilan. Banyak yang memiliki penyakit bawaan seperti jantung,” ujar Setiyowati saat memberikan penjelasan.
Baca Juga:Tegas! Dinperinaker Pekalongan Pelototi Kontrak Kerja Calon PMI Agar Tak Dirugikan di Luar NegeriEkonomi Kendal Melaju 7,99 Persen, DPRD Soroti Ketimpangan dan Dominasi Kawasan Industri
Meski demikian, Setiyowati membawa kabar baik. Memasuki triwulan pertama tahun 2026, angka kematian ibu di Kabupaten Batang sukses ditekan dan masih berada di posisi nol.
“Alhamdulillah sampai triwulan pertama tahun ini masih nol, semoga tetap bisa dipertahankan,” ucapnya berharap tren positif ini berlanjut hingga penghujung tahun.
Lebih lanjut, ia menyoroti faktor risiko yang kerap menjadi dilema di lapangan. Tidak sedikit calon ibu yang secara medis sangat tidak direkomendasikan untuk mengandung, namun tetap bersikeras mengambil risiko tersebut atas dasar dorongan sosial maupun keinginan personal untuk memiliki keturunan.
“Secara medis tidak dianjurkan hamil, tapi karena keinginan punya anak, tetap dipaksakan. Ini yang berisiko tinggi,” tutur Setiyowati menegaskan tantangan tersebut.
Intervensi Tim Ahli dan Pemantauan Digital
Sebagai langkah preventif yang komprehensif, Dinkes Batang kini menggencarkan program pendampingan oleh tim ahli di sejumlah puskesmas prioritas. Program lintas disiplin ilmu ini melibatkan dokter spesialis kandungan (obgyn), dokter spesialis anak, serta ahli gizi untuk memberikan intervensi sesuai kondisi kasus spesifik di masing-masing wilayah.
Pada tahap awal di tahun 2026, program pendampingan spesialis ini mulai diterapkan di tiga puskesmas. Pemerintah daerah menargetkan jangkauan program ini dapat diperluas hingga 12 puskesmas pada akhir tahun.
Tak berhenti di langkah kuratif, Dinkes juga menginisiasi pemantauan berbasis digital melalui pembentukan grup komunikasi WhatsApp. Grup ini secara khusus menghubungkan para bidan desa dengan pihak rumah sakit rujukan guna memonitor secara ketat kondisi pasien berisiko tinggi pascaperawatan.
