Inovatif! Siasati Banjir Rob, Kawasan Pesisir Batang Disulap Jadi Destinasi Wisata Perikanan

Inovatif! Siasati Banjir Rob, Kawasan Pesisir Batang Disulap Jadi Destinasi Wisata Perikanan
NOVIA ROCHMAWATI TANAMI - PMI Batang melakukan penanaman seribu bibit mangrove dan penebaran benih ikan di area seluas sekitar 300 hektare, Kamis (30/4/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Kawasan pesisir di Desa Denasri Kulon, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang selama ini menjadi langganan banjir rob pasang air laut, kini tengah bersiap untuk bertransformasi. Lahan yang dulunya merupakan hamparan sawah produktif tersebut secara bertahap dialihfungsikan menjadi sumber ekonomi baru berbasis destinasi wisata perikanan.

Gerakan pemulihan ekologi sekaligus ekonomi ini diinisiasi oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang bersama sejumlah instansi lintas sektoral. Bentuk intervensi nyata yang dilakukan adalah melalui penanaman 1.000 bibit mangrove serta penebaran benih ikan di area genangan seluas kurang lebih 300 hektare pada Kamis (30/4/2026).

Kegiatan pelestarian pesisir ini juga diintegrasikan dengan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) Tahun 2026.

Baca Juga:Aksi May Day 2026 Pekalongan Pecah! Buruh Teriakkan 3 Tuntutan Ngeri, Minta Outsourcing DihapusFakta Baru Video Asusila Viral di Batang, Pemeran Pria Tergiur Cuan Rp 220 Juta dari Akun Misterius

Ketua PMI Kabupaten Batang, Ahmad Taufik, memaparkan bahwa langkah transformasi ruang ini merupakan respons adaptif atas perubahan bentang alam wilayah yang kini sudah tidak lagi produktif untuk sektor pertanian padi.

“Dulu sekitar 30 tahun lalu ini adalah sawah produktif. Sekarang terdampak rob, sehingga kita upayakan penanaman mangrove untuk menahan dampak sekaligus mengoptimalkan menjadi kawasan perikanan,” ujar Ahmad Taufik memberikan keterangan.

Menurut Taufik, penebaran benih ikan di kawasan tersebut tidak sekadar menjadi upaya mitigasi ekologi, melainkan sebuah langkah awal yang strategis untuk memantik kembali denyut perekonomian warga terdampak.

Adaptasi Bencana dan Edukasi Pelajar

Dukungan penuh atas program ekowisata ini turut disuarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang. Kepala Pelaksana BPBD Batang, Wawan Nurdiansyah, menilai bahwa inovasi tata ruang ini merupakan bentuk nyata adaptasi masyarakat pesisir terhadap risiko bencana permanen yang sulit dihindari secara mutlak.

“Masyarakat harus bisa hidup berdampingan dengan kondisi ini. Kalau tidak bisa dihindari, maka harus dimanfaatkan, salah satunya melalui konsep wisata perikanan,” jelas Wawan menekankan pentingnya konsep resiliensi bencana.

Menariknya, kegiatan mitigasi dan transformasi kawasan ini juga merangkul generasi muda. Tercatat, sekitar 200 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) di Kabupaten Batang turut dilibatkan. Pelibatan ini ditujukan sebagai sarana edukasi kebencanaan sekaligus menanamkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir.

0 Komentar