Ia juga mengaitkan isu lingkungan dengan kebijakan Kementerian Agama yang mendorong pengelolaan sampah secara mandiri di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, sampah tidak boleh lagi menjadi beban yang keluar dari kampus, melainkan harus dikelola secara bertanggung jawab di lingkungan internal. “Oleh karena itu, kampus harus hadir sebagai katalisator gerakan perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup secara berkelanjutan,” katanya.
Pada sesi pemaparan materi, H. Failasuf menyampaikan berbagai pengalaman dan motivasi kewirausahaan yang telah mengantarkannya dalam mengembangkan usaha Batik Pesisir. Ia menjelaskan konsep green batik sebagai bentuk inovasi yang mengintegrasikan nilai ekonomi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya membangun usaha yang berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya secara bijaksana, inovasi produk yang ramah lingkungan, serta komitmen untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, Prof. Dr. Hj. Susminingsih, M.Ag. memaparkan materi bertajuk “Green Management: Fondasi The Future Business yang Etis dan Berkelanjutan.” Dalam presentasinya, ia menjelaskan berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini, termasuk krisis fisik akibat kerusakan lingkungan dan pentingnya membangun hubungan simbiosis mutualisme antara manusia dan alam.
Baca Juga:Momentum Hari Lahir Pancasila, Jasa Raharja Perkuat Peran sebagai Wujud Kehadiran NegaraMaknai Semangat Iduladha 1447 H, Jasa Raharja Berbagi Paket Daging Kurban untuk Masyarakat
Prof Susminingsih juga menguraikan prinsip-prinsip dasar etika lingkungan dalam Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, serta menjelaskan tiga pilar utama green management, yaitu pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan penguatan rantai pasok produk hijau. Untuk memperkuat pemahaman peserta, ia menampilkan berbagai dokumentasi visual, ayat Al-Qur’an, dan hadis yang relevan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Berbagai pertanyaan kritis dan konstruktif muncul dalam sesi diskusi khususnya terkait implementasi bisnis berkelanjutan, pengelolaan lingkungan, serta peluang pengembangan ekonomi hijau di Indonesia.
Melalui diskusi yang berlangsung aktif dan produktif tersebut, peserta memperoleh wawasan yang lebih komprehensif mengenai pentingnya menyelaraskan aspek profit, manusia, dan planet dalam praktik bisnis masa depan.(nul)
