Meski investasi terus berdatangan dari negara-negara seperti Korea Selatan, Amerika Serikat, hingga China, sejumlah perusahaan sempat mengalami kesulitan merekrut tenaga kerja lokal. Penyebab utamanya adalah mayoritas pelamar belum memenuhi persyaratan pendidikan minimal yang ditetapkan.
Melihat kondisi tersebut, Pemkab Batang berharap program pendidikan kesetaraan yang terintegrasi dengan pelatihan kerja dapat menjadi solusi jangka panjang bagi warga usia dewasa yang tidak lagi berada pada jenjang pendidikan formal. Program ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja terampil.
Faiz juga berharap skema tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat sehingga cakupan program bisa diperluas dan mampu mempercepat peningkatan kualitas SDM di daerah secara lebih masif.
Baca Juga:Daya Tampung SMP di Pekalongan Cukup, Ada 1.350 Kursi Cadangan untuk Siswa BaruPolres Kendal Gagalkan Peredaran 50 Gram Sabu, Kurir Jaringan Dibekuk di Cepiring
Upaya Pemkab Batang mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen, I Gusti Made Ardana, menilai langkah yang dilakukan Batang layak menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola anggaran terbatas untuk peningkatan kualitas SDM.
“Apa yang dilakukan Bupati Batang bisa menjadi inspirasi bagi kabupaten lain. Dengan anggaran yang terbatas, tetapi mampu meningkatkan kualitas SDM,” ujarnya. (fel)
