Harga Jagung di Kendal Tembus Rp6.200 per Kg, Petani Panen Untung di Musim Ini

Harga Jagung di Kendal Tembus Rp6.200 per Kg, Petani Panen Untung di Musim Ini
ABDUL GHOFUR, PENJEMURAN - Proses penjemuran jagung di Desa Triharjo berlangsung di lahan terbuka, sebelum dijemput pengepul yang siap menampung hasil panen petani setempat untuk dipasarkan, Minggu (28/6/2026).
0 Komentar

KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Harga jagung pipilan di tingkat petani di Kabupaten Kendal melonjak hingga Rp6.200 per kilogram pada musim panen kali ini. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan dibandingkan musim panen tahun lalu yang hanya berkisar Rp5.500 hingga Rp5.800 per kilogram.

Kenaikan harga ini disambut positif oleh para petani dan pengepul karena dinilai mampu meningkatkan pendapatan. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa harga yang terus melambung akan membebani peternak ayam yang menjadi pengguna utama jagung sebagai bahan baku pakan.

Suyuti, pengepul jagung asal Desa Triharjo, Kecamatan Gemuh, mengungkapkan bahwa selama tiga tahun terakhir dirinya membeli hasil panen langsung dari petani tanpa melalui perantara. Jagung yang dikumpulkan kemudian dipasok ke peternak ayam petelur, baik secara langsung maupun melalui mitra yang memiliki mesin pengolah pakan.

Baca Juga:Polres Kendal Gagalkan Peredaran 50 Gram Sabu, Kurir Jaringan Dibekuk di CepiringRibuan PTK Hadiri Edu-Summit 2026 di Kajen, Plt Bupati Siap Adopsi Hasil Forum

“Harga sekarang Rp6.200 per kilogram. Naiknya cukup banyak dibanding tahun lalu sehingga petani lebih diuntungkan,” tegas Suyuti saat ditemui di lokasi penjemuran, Minggu (28/6/2026) siang.

Dalam satu musim panen, Suyuti mampu menyerap sekitar 100 hingga 150 ton jagung dari para petani di wilayahnya. Menurutnya, tingginya harga memberikan keuntungan bagi petani, namun stabilitas harga tetap harus dijaga agar tidak menekan biaya produksi di sektor peternakan.

“Harapan kami harga tetap stabil. Petani untung, peternak juga tidak keberatan. Jangan sampai harga tinggi justru membuat peternak kesulitan. Yang penting semua sama-sama mendapat keuntungan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Mat Imron (60), petani jagung penggarap lahan Perhutani. Ia mengaku usaha budidaya jagung masih memberikan keuntungan meskipun membutuhkan biaya produksi yang tidak sedikit.

Menurutnya, satu kali musim tanam memerlukan waktu sekitar tiga bulan, sementara biaya operasional mulai dari penanaman, pemupukan, hingga pengeringan cukup besar. Namun ia tetap bersyukur karena hasil yang diperoleh masih mampu memberikan keuntungan.

“Kalau dihitung hasilnya masih lumayan. Biaya memang besar, tetapi masih ada keuntungan,” katanya.

Mat Imron menjelaskan, lahan yang digarap merupakan kawasan Perhutani dengan sistem tumpangsari, yaitu memanfaatkan sela-sela tanaman jati untuk menanam jagung. Ketika pohon jati tumbuh besar atau memasuki masa panen, petani akan berpindah ke lahan lain yang masih dapat digarap.

0 Komentar