BATANG, RADARPEKALONGAN.ID – Pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia mendapat sambutan hangat dari para pengelola lembaga pendidikan keagamaan Islam di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Apresiasi itu muncul seiring dengan kondisi memprihatinkan yang selama ini dialami para ustaz dan ustazah di pesantren maupun Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) terkait besaran honor yang diterima.
Data di lingkungan Kemenag Batang mencatat, masih banyak tenaga pendidik TPQ di wilayah setempat yang hanya mengantongi honor sekitar Rp100 ribu per bulan. Meskipun demikian, mereka tetap menjalankan tugas mengajar dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Baca Juga:Pendaftar Haji Muda Meningkat, Cek Golongan Darah di UDD PMI Batang MelonjakLibur Sekolah, Perpusda Batang Tetap Ramai Dikunjungi Pelajar untuk Membaca dan Belajar
Kehadiran Ditjen Pesantren dinilai menjadi angin segar bagi upaya peningkatan pembinaan, pemerataan bantuan, hingga peningkatan kesejahteraan para guru ngaji.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Batang, Munif, menyampaikan bahwa Ditjen Pesantren yang sebelumnya masih berada di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) kini hadir sebagai unit eselon I yang secara khusus mengurusi segala kebijakan dan program pengembangan pondok pesantren.
Menurut Munif, langkah ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam memperkuat perhatian terhadap lembaga pendidikan keagamaan Islam, baik dari sisi administrasi kelembagaan, pengembangan kapasitas, maupun pemenuhan sarana prasarana.
“Dampaknya tentu sangat luas. Tidak hanya pembinaan langsung dari Kementerian Agama, tetapi juga diharapkan ada pemerataan dana operasional yang selama ini belum menyentuh seluruh pesantren. Nantinya TPQ, Madrasah Diniyah Takmiliyah, dan pondok pesantren akan merasakan manfaatnya,” ujar Munif saat membuka Rapat Koordinasi Evaluasi LPKI EMIS Online Pontren di Aula Kantor Kemenag Batang, Selasa (7/7/2026).
Rakor tersebut juga dimanfaatkan untuk memberikan pendampingan teknis kepada para pengelola data lembaga pendidikan keagamaan Islam se-Kabupaten Batang dalam menggunakan aplikasi Education Management Information System (EMIS). Sistem ini diharapkan mampu menata dan memvalidasi data kelembagaan secara lebih akurat dan terintegrasi.
Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Batang, Ahmad Munir, mengungkapkan bahwa mayoritas Lembaga Pendidikan Keagamaan Islam (LPKI) atau TPQ di Batang lahir dari inisiatif masyarakat sehingga pengelolaan administrasi dan datanya masih belum tertata dengan baik. Pihaknya pun hadir untuk mendampingi agar pengelolaan data dapat dilakukan secara lebih profesional dan terstandar.
