Cegah Perundungan Sejak MPLS, FKUB Batang Tanamkan Nilai Toleransi di Sekolah

Cegah Perundungan Sejak MPLS, FKUB Batang Tanamkan Nilai Toleransi di Sekolah
NOVIA ROCHMAWATI, SOSIALIASI - FKUB Batang saat mengisi kegiatan MPLS di SMAN 1 Batang.
0 Komentar

BATANG, RADARPEKALONGAN.ID – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak hanya menjadi ajang mengenal lingkungan belajar yang baru, tetapi juga momentum strategis untuk menanamkan nilai toleransi sebagai langkah preventif mencegah perundungan di sekolah.

Semangat itu diusung Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Batang saat mengisi materi MPLS di SMA Negeri 1 Batang, Senin (13/7/2026).

Ratusan siswa baru mengikuti materi mengenai pentingnya menghargai keberagaman agama, suku, dan latar belakang. Edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pelaksanaan MPLS Ramah sekaligus membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghormati di tengah keberagaman.

Baca Juga:Perwal Baru TPI Pekalongan Terbit, Ikan Rusak Dilarang DilelangTabrak Lari di Langenharjo, Pembonceng Motor Tewas, Polisi Buru Pelaku

Ketua FKUB Batang, Subkhi, mengatakan nilai kerukunan perlu ditanamkan sejak awal siswa memasuki lingkungan sekolah. Menurutnya, sikap saling menghargai menjadi fondasi penting untuk mencegah munculnya perundungan maupun konflik antarpeserta didik yang dapat mengganggu proses belajar mengajar.

“Kerukunan itu harus disiapkan sejak awal, karena generasi muda ini akan hidup untuk masa depan. Semoga dengan materi yang disampaikan dari perwakilan tokoh agama ini bisa menciptakan sikap kesadaran untuk menjaga persatuan dan kesatuan di NKRI ini,” katanya usai menjadi pemateri di Aula SMAN 1 Batang.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program FKUB Goes to School yang akan berlangsung selama tiga hari. Selain SMAN 1 Batang, program itu juga menyasar SMAN 1 Bandar, SMKN 1 Blado, SMK Bhapra, SMK Ma’arif NU Limpung, dan SMA Wahid Hasyim Tersono. Total enam sekolah di Kabupaten Batang menjadi target program ini.

Agar materi lebih mudah diterima oleh siswa, penyampaian dikemas secara interaktif melalui permainan, kuis edukatif, dan dialog bersama siswa. Cara tersebut membuat para peserta lebih antusias mengikuti materi tentang toleransi dan keberagaman dibandingkan metode ceramah konvensional.

Salah seorang peserta didik baru, Camelia, mengaku senang mengikuti sesi yang dibawakan FKUB. Ia bahkan berhasil menjawab pertanyaan mengenai hari besar enam agama di Indonesia dan memperoleh hadiah dari panitia sebagai bentuk apresiasi.

“Tadi dapat hadiah kaos dari salah satu anggota FKUB karena bisa menjawab pertanyaan seputar hari-hari besar enam agama yang ada di Indonesia. Senang sekali dan pesannya kepada teman-teman, baik muslim maupun nonmuslim, harus bisa menjunjung toleransi beragama karena kita ini semua adalah generasi muda Indonesia,” tuturnya.

0 Komentar