KAJEN, RADARPEKALONGAN.ID – Sebuah fenomena langka terjadi di dunia pendidikan Kabupaten Pekalongan. SD Muhammadiyah Kajen mencatat antusiasme luar biasa dengan membuka jalur inden Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) hingga Tahun Ajaran 2031/2032.
Bahkan, kuota untuk Tahun Ajaran 2027/2028 telah resmi terisi penuh, sementara pendaftar untuk 2028/2029 sudah mencapai tiga rombongan belajar (rombel) yang mengamankan kursi.
Kepala SD Muhammadiyah Kajen, Mustariadi S.Pd.I, mengungkapkan bahwa kepercayaan publik yang begitu tinggi tidak datang secara tiba-tiba. Menurutnya, capaian ini merupakan buah dari kerja keras kolektif yang konsisten selama bertahun-tahun dalam menghadirkan layanan pendidikan bermutu. Fenomena ini, lanjutnya, menjadi indikasi bahwa masyarakat kini semakin kritis dan selektif dalam memilih lembaga pendidikan dasar bagi putra-putrinya.
Baca Juga:Artis I Love RCTI Ketagihan Sate Bumbon dan Kopi Liberika Khas Kendal8 Pekerja di KIK Somasi PT Auri Steel Soal PHK Sepihak dan Upah Tertahan
“Orang tua tidak hanya melihat nilai akademik. Mereka juga menilai pembentukan karakter, pendidikan agama, dan lingkungan belajar yang nyaman. Itu semua menjadi pertimbangan utama,” ujar Mustariadi saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (7/8/2026).
Ia menambahkan, tingginya animo menjadi cambuk semangat bagi seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk terus berinovasi. Berbagai program unggulan terus dikembangkan, mulai dari penguatan nilai-nilai Islami, metode pembelajaran kreatif berbasis teknologi, hingga wadah pengembangan bakat dan minat siswa yang telah menorehkan sejumlah prestasi akademik maupun nonakademik.
Mustariadi memaparkan empat pilar strategi yang menjadi kunci keberhasilan sekolah mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Pertama, komitmen terhadap pelayanan prima. Sekolah memastikan komunikasi dengan orang tua berjalan cepat, terbuka, dan responsif. Menurutnya, kepuasan orang tua tidak hanya diukur dari hasil belajar anak, tetapi juga dari kualitas interaksi dan kemudahan akses informasi.
Kedua, inovasi pembelajaran yang menyenangkan. Guru didorong untuk menghadirkan suasana belajar yang kreatif, memanfaatkan teknologi digital, sekaligus mengakomodasi potensi unik setiap peserta didik.
Ketiga, penguatan karakter dan nilai keislaman sebagai identitas sekolah. Pembiasaan ibadah, adab, disiplin, kepemimpinan, dan kepedulian sosial ditanamkan secara terstruktur sejak dini.
“Prestasi itu penting, tapi yang lebih penting adalah membentuk karakter. Ketika anak memiliki akhlak baik dan kemampuan berkembang, orang tua akan merasakan manfaatnya secara langsung,” tegasnya.
