Sentra Triplek Rejosari Hidupkan Ekonomi Desa, Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal

Sentra Triplek Rejosari Hidupkan Ekonomi Desa, Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal
ABDUL GHOFUR. TRIPLEK - Aktivitas triplek warga Desa Rejosari terus menggeliat, menyerap tenaga kerja lokal dan menggerakkan perekonomian melalui produksi serta distribusi kayu lapis setiap hari, Selasa (11/8/2026).
0 Komentar

KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID — Di Desa Rejosari, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, deru mesin produksi nyaris tak pernah berhenti. Puluhan pabrik dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pengolahan kayu lapis atau triplek tumbuh menjadi kekuatan ekonomi desa sekaligus membuka lapangan kerja bagi ribuan warga setempat.

Kepala Desa Rejosari, Mukhtarom, mengungkapkan bahwa geliat industri pengolahan triplek telah memberikan dampak besar terhadap perekonomian masyarakat. Aktivitas produksi yang berlangsung setiap hari menjadikan sektor manufaktur berbasis perdesaan ini sebagai salah satu penggerak utama ekonomi desa.

“Industri triplek bukan hanya menjadi sumber pendapatan bagi pemilik usaha, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Dampaknya sangat luas terhadap perekonomian warga,” ujarnya, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga:RSUD Kajen Jemput Bola Lewat Speling, Layanan Spesialis di Pelosok Petungkriyono273 Ribu Penumpang Naik Turun di Stasiun Pekalongan, KA Kaligung Paling Favorit

Menurut Mukhtarom, keberadaan puluhan unit usaha tersebut memberikan pilihan pekerjaan yang lebih banyak bagi masyarakat tanpa harus merantau ke luar daerah. Tenaga kerja lokal terserap mulai dari proses produksi, pengangkutan bahan baku, hingga distribusi produk jadi.

Perkembangan industri ini didukung oleh ketersediaan bahan baku kayu dari perkebunan rakyat serta keterampilan tenaga kerja yang menjadi modal penting dalam menjaga produktivitas dan kualitas produk.

Produk triplek dari sentra industri Rejosari tidak hanya menyasar kebutuhan masyarakat sekitar, tetapi juga dipasok untuk memenuhi permintaan proyek konstruksi, kebutuhan interior, hingga industri furnitur di sejumlah kota besar.

Seiring meningkatnya permintaan, para pelaku usaha mulai meningkatkan kapasitas produksi dan mengadopsi mesin produksi modern untuk mempercepat proses pengerjaan sekaligus menjaga konsistensi kualitas.

Mukhtarom menilai perkembangan industri ini telah menciptakan efek berantai bagi sektor ekonomi lainnya. Pertumbuhan usaha pengolahan kayu turut menghidupkan jasa transportasi dan logistik, bengkel, hingga warung makan di sekitar sentra produksi.

“Yang tumbuh bukan hanya pabriknya. Usaha pendukung di sekitar juga ikut bergerak. Ini yang membuat dampaknya terasa langsung bagi masyarakat,” katanya.

Menurutnya, geliat industri triplek menjadi bukti bahwa potensi ekonomi desa dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar apabila dikelola secara serius, berkelanjutan, dan profesional.

Baca Juga:Kebakaran Hanguskan 5 Rumah di Kendal, 5 KK Terpaksa MengungsiBatang Siaga Darurat Kekeringan, Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus 2026

Mukhtarom berharap ke depan industri yang ada semakin maju, tenaga kerja lokal semakin banyak terserap, dan manfaat ekonominya semakin dirasakan seluruh masyarakat.

0 Komentar