DORO, RADARPEKALONGAN.ID — Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, memiliki kekayaan kuliner lokal yang patut diperhitungkan. Di tengah maraknya durian unggulan dari berbagai daerah, Desa Rogoselo menghadirkan jenis durian lokal baru bernama Durian Mingsri. Varian ini hanya dapat ditemukan di Kedai Durian Madu (KDM) milik Kepala Desa Rogoselo, Saronto.
Nama Mingsri sendiri diambil dari lokasi pohon durian tersebut tumbuh, yakni di Dukuh Mingsri, wilayah Desa Rogoselo. Meskipun tergolong durian lokal, cita rasa Durian Mingsri dinilai jauh berbeda dengan varian lainnya. Ciri khasnya terletak pada daging buah yang tebal dengan rasa manis legit yang kuat.
“Ini adalah durian lokal asli Rogoselo. Ini saya kasih nama durian Mingsri. Durian ini sangat tebal, manis, legit,” ungkap Saronto saat ditemui di Kedai Durian Madu, Rogoselo, Kecamatan Doro.
Baca Juga:Pemkot Pekalongan Uji Kelayakan Beras Bantuan Pangan untuk 39 Ribu KPMKebakaran Hutan Jati Weleri, TNI dan Warga Bahu-membahu Padamkan Api
Saronto menjelaskan, Durian Mingsri sejauh ini belum tercatat dalam festival durian resmi. Namun dari segi rasa dan ketebalan daging buah, durian tersebut dinilai sudah memenuhi kriteria kelayakan untuk diikutsertakan. Hanya saja, dari sisi warna, daging buah Mingsri belum sekuat Durian Matahari yang memiliki warna kuning keemasan yang lebih mencolok.
Ia menyebut Mingsri masih tergolong langka karena hanya ditemukan dalam jumlah terbatas dan belum banyak dikenal di luar wilayah Rogoselo.
“Ini hanya ada di Rogoselo. Karena durian lokal itu 1000 rasa. Jadi 1000 macam pohon itu pasti rasanya beda-beda,” ujarnya.
Melihat potensi besar durian lokal di Kecamatan Doro, Saronto mendorong agar festival durian pada tahun 2027 dapat digelar di wilayah tersebut. Menurutnya, Doro memiliki produksi durian lokal yang melimpah sekaligus berkualitas.
“Maka di tahun 2027 saya usul dengan dinas, mohon ditempatkan di Kecamatan Doro. Karena Kecamatan Doro ini penghasil durian lokal yang berkualitas dan terbanyak,” katanya.
Saronto menjelaskan, terdapat sejumlah kriteria yang menjadi pertimbangan dalam festival durian, di antaranya rasa, warna daging, dan ketebalan buah.
“Yang pertama rasa. Yang kedua warna, ketiga ketebalan. Kalau bentuk ya durian macam-macam bentuknya,” jelasnya.
Baca Juga:Pemkab Batang Jamin 17 Ribu Hektare Sawah Tetap Lestari di Tengah IndustriDua Penghuni Rumah di Kendal Ditemukan Tewas, Anak 7 Tahun Alami Luka Kekerasan
Durian Mingsri pun berpeluang dibawa ke festival apabila buahnya masih tersedia saat kegiatan digelar. Namun, persoalannya adalah waktu panen yang tidak selalu bersamaan dengan musim durian utama. Saronto mengatakan Mingsri justru muncul lebih awal dan tidak selalu berbuah pada musim durian umum yang biasanya berlangsung pada akhir tahun.
