RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Masih ingat ngerinya tragedi tanggul Kali Bodri yang jebol dan menyapu permukiman pada tahun 2025 lalu? Trauma bencana tersebut rupanya tak membuat warga Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, menyerah pada keadaan. Tak mau lagi mati kutu dan hanya jadi penonton saat dihantam musibah, warga kini bersiap diri menjadi garda terdepan!
Mengambil langkah super konkret, Pemerintah Desa (Pemdes) Kebonharjo langsung menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal untuk menggembleng warganya dalam program pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) 2026. Acara krusial ini digeber selama tiga hari berturut-turut di balai desa setempat, mulai Senin hingga Rabu (20–22/4/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kendal, Herdiyanto Adhityo, mengingatkan keras bahwa kesiapsiagaan warga di wilayah rawan bencana adalah harga mati.
Baca Juga:Reaktivasi Stasiun Plabuan Batang 27 April 2026, KAI Permudah Akses Pekerja KITBSolar Tumpah di Jalur Bojongkoneng Pekalongan, Banyak Motor Tergelincir, Warga & Aparat Turun Tangan
“Melalui pembentukan desa tangguh bencana, masyarakat harus mampu mengenali risiko, melakukan pencegahan, dan bertindak cepat saat darurat. Ini bukan sekadar program, tapi kebutuhan mendesak,” ujar Herdiyanto dengan tegas pada hari pembukaan, Senin (20/4/2026).
Herdiyanto membeberkan bahwa program Destana yang mengacu pada Peraturan BNPB Nomor 7 Tahun 2025 ini menuntut desa agar bisa mandiri mengelola ancaman. Mulai dari kelembagaan yang kuat, hingga partisipasi warganya yang cekatan.
“Risiko tidak bisa dihapus, tapi dampaknya bisa ditekan jika masyarakat siap,” tambahnya menekankan pentingnya mitigasi sejak dini.
Tak Boleh Ada Lagi Warga Panik
Di sisi lain, Kepala Desa Kebonharjo, Edy Lukman, secara blak-blakan menyebut bahwa tragedi tanggul Kali Bodri tahun 2025 menjadi pelajaran paling berharga bagi warganya. Ia tak mau insiden memilukan itu memakan korban akibat minimnya persiapan.
“Kita tidak ingin kejadian itu terulang. Kalau pun terjadi lagi, warga harus siap dan tidak panik karena sudah tahu langkah yang harus dilakukan,” jelas Edy penuh harap.
Untuk mewujudkan desa yang tangguh, Edy mengumpulkan 50 peserta perwakilan dari berbagai unsur. Mulai dari pentolan RT, RW, tokoh masyarakat, organisasi keagamaan, hingga kelompok pemuda. Mereka dituntut menyerap ilmu dari para instruktur BPBD, lalu menularkannya kembali ke lingkungan rumahnya masing-masing.
