Tanamkan Mitigasi Sejak Dini, Siswa ABK Pekalongan Belajar Cegah Banjir lewat Simulasi Sampah

Tanamkan Mitigasi Sejak Dini, Siswa ABK Pekalongan Belajar Cegah Banjir lewat Simulasi Sampah
PRAKTIK - Para siswa inklusi sedang mempraktikkan kegiatan mitigasi bencana.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Ancaman bencana banjir yang senantiasa mengintai membuat langkah mitigasi perlu ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Merespons hal tersebut, sebuah kelas pendidikan inklusi di Kota Pekalongan mulai menggencarkan simulasi kesiapsiagaan bencana.

Guru Pendamping Khusus (GPK) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pekalongan, Anggraini Nur Millati, menyatakan bahwa pemahaman mitigasi harus dibangun sejak usia dini melalui metode yang ramah dan mudah dicerna.

Dalam proses pembelajarannya, fokus edukasi tidak sekadar pada teori penyelamatan diri, melainkan juga menanamkan kesadaran tentang akar masalah terjadinya bencana. Salah satu isu utama yang diangkat adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan sebagai pemicu utama banjir.

Baca Juga:Bikin Resah! Tim Saber Polres Pekalongan Sikat Habis Balap Liar dan Knalpot Brong di Exit Tol SetonoTangis Haru Pecah di Batang, Jenazah ART Remaja yang Tewas Tragis di Jakarta Tiba di Kampung Halaman

“Anak-anak tidak hanya belajar tentang mitigasi bencana, tetapi juga memahami bahwa hal sederhana seperti sampah dapat menjadi penyebab utama banjir. Dari sini, mereka diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan berarti juga menjaga diri mereka sendiri,” tutur Anggraini.

Metode Simulasi Visual yang Konkret

Guna merealisasikan tujuan tersebut, tenaga pendidik merancang metode pembelajaran yang bersifat konkret dan visual. Alih-alih hanya berteori di depan kelas, guru memanfaatkan alat peraga guna menyimulasikan secara langsung bagaimana tumpukan sampah dapat menyumbat aliran air, yang pada akhirnya memicu luapan dan banjir.

Melalui metode pengamatan langsung tersebut, para siswa ABK didorong untuk dapat menangkap nalar sebab-akibat secara nyata dan terukur. Anggraini menambahkan, penanaman rasa aman dan kepedulian lingkungan sejatinya merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun lewat pembiasaan kecil sehari-hari.

“Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat dan merasakan langsung prosesnya. Hal ini membantu mereka memahami konsep dengan lebih baik,” terangnya menjelaskan.

Melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman aplikatif ini, anak-anak berkebutuhan khusus diharapkan tidak hanya sekadar mengerti bahaya membuang sampah sembarangan. Lebih dari itu, mereka diproyeksikan tumbuh menjadi generasi tangguh yang proaktif dalam menjaga kelestarian lingkungan dan siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang. (mal)

0 Komentar