RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Peningkatan frekuensi bencana banjir di berbagai daerah menuntut adanya penguatan edukasi mitigasi yang inklusif dan merata. Upaya mitigasi ini dinilai sangat krusial, tak terkecuali bagi anak-anak berkebutuhan khusus, guna memastikan mereka memiliki kesiapsiagaan sejak usia dini.
Guru Pendamping Khusus (GPK) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Anggraini Nur Millati, menyatakan bahwa penanaman edukasi mitigasi harus dilakukan melalui pendekatan pembelajaran yang ramah dan mudah dicerna oleh anak-anak.
Anggraini menjelaskan, pada kelas inklusi, fokus pembelajaran tidak berhenti pada pengenalan fenomena bencana, melainkan ditekankan pada pemahaman akar penyebabnya. Salah satu isu utama yang diangkat adalah kebiasaan membuang sampah sebagai faktor pemicu meluapnya air.
Baca Juga:Pusat Cek Lokasi PSEL Pekalongan Raya! Lahan Masih Kurang 0,8 Hektare, Pemkot Segera Bebaskan TanahProyek Pengecoran Pantura Brangsong Picu Kemacetan, Polisi Perpanjang Jalur Contraflow ke Ketapang
“Anak-anak tidak hanya belajar tentang mitigasi bencana, tetapi juga memahami bahwa hal sederhana seperti sampah dapat menjadi penyebab utama banjir. Dari sini, mereka diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan berarti juga menjaga diri mereka sendiri,” ujar Anggraini saat memberikan penjelasan.
Menurutnya, pemahaman akan rasa aman dan kepedulian lingkungan tidak terbentuk secara instan. Kesadaran tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil setiap harinya. Oleh sebab itu, metode yang diterapkan harus bersifat konkret.
Metode Simulasi Berbasis Pengalaman
Guna merealisasikan hal tersebut, tenaga pendidik menggunakan alat peraga sederhana untuk menyimulasikan proses terjadinya banjir secara visual. Para siswa diajak mengamati langsung bagaimana laju aliran air dapat tersumbat oleh tumpukan sampah.
Melalui metode ini, anak-anak dapat memahami secara nyata hubungan sebab-akibat antara perilaku keliru manusia dengan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.
“Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat dan merasakan langsung prosesnya. Hal ini membantu mereka memahami konsep dengan lebih baik,” tuturnya memaparkan efektivitas metode tersebut.
Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman empiris ini dinilai sangat efektif untuk menumbuhkan nalar kritis dan kesadaran lingkungan pada anak-anak berkebutuhan khusus. Selain membekali mereka dengan wawasan mitigasi bencana, metode ini sekaligus membentuk karakter generasi pelestari alam.
Melalui intervensi edukasi yang berkelanjutan ini, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi individu yang tangguh, siap menghadapi potensi bencana, serta berperan aktif dalam melakukan tindakan preventif demi menjaga kelestarian bumi. (nul)
