Tanggul TNI Tirto Kritis Diterjang Rob Tiap Hari, DPRD Pekalongan Siapkan Dana Rp 600 Juta

Tanggul TNI Tirto Kritis Diterjang Rob Tiap Hari, DPRD Pekalongan Siapkan Dana Rp 600 Juta
HADI WALUYO TINJAU TANGGUL TNI - Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Sumar Rosul, bersama DPU Taru melalui Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), turun langsung meninjau lokasi tanggul, Rabu (13/5/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Ancaman krisis ekologis pesisir terus menghantui Kabupaten Pekalongan. Tanggul Darurat TNI yang berlokasi di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto—benteng terakhir penahan luapan air laut dan sungai—kini berada dalam kondisi kritis. Elevasi air pasang harian dilaporkan kian memburuk dan melimpas langsung ke area permukiman warga.

Merespons eskalasi ancaman tersebut, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Sumar Rosul, didampingi jajaran Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU Taru), melakukan inspeksi mendadak ke lokasi tanggul pada Rabu, 13 Mei 2026.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa fungsi tanggul sepanjang 500 meter itu merosot tajam. Permukaan air laut di sisi luar telah sejajar dengan badan tanggul, bahkan mulai mengikis struktur tanah akibat limpasan konstan.

Baca Juga:Kecelakaan Maut di Pantura Batang, Dua Pemuda Tewas Terlindas Truk Usai Motor OlengProduksi Perdana, Sumur Minyak Rakyat Kendal Kirim 15 Ribu Liter Minyak Mentah ke Pertamina Cepu

“Dalam pergeseran anggaran kemarin, sudah kita sepakati untuk dianggarkan sekitar Rp 600 juta untuk peninggian tanggul TNI. Namun melihat kebutuhan di lapangan yang cukup banyak, penanganan yang bersifat mendesak akan didahulukan,” ujar Sumar Rosul saat diwawancarai usai inspeksi.

Sumar menegaskan bahwa proyek peninggian tanggul tersebut ditargetkan dapat dieksekusi secara penuh pada tahun 2026 ini.

Lebih lanjut, ia mendorong kolaborasi antara pemerintah desa dan elemen masyarakat untuk melakukan konservasi vegetasi pasca-peninggian fisik. Ia menyarankan penanaman jenis bakau seperti kapidodo dan api-api sebagai penguat alami struktur tanah.

“Tanggul kan hanya berupa bangunan tanah urug. Jika tidak diperkuat dengan tanaman bakau, maka akan mudah tergerus erosi akibat terus menerus digempur ombak dan arus sungai,” jelasnya.

Struktur Rentan dan Cemasnya Warga

Dibangun sekitar satu dekade silam, tanggul yang membentang dari Kali Meduri hingga Kali Sengkarang ini hanya mengandalkan gundukan tanah merah tanpa perkerasan beton. Kondisi ini membuat strukturnya rentan menjelma menjadi lumpur licin saat terendam, dan erosi yang memotong badan tanggul memicu risiko jebol setiap saat.

Camat Tirto, Siswanto, mengonfirmasi rutinitas limpasan rob tersebut.

“Pada saat air laut pasang, jam-jam tertentu biasanya sore, di Desa Mulyorejo air limpas melalui Tanggul TNI,” ungkap Siswanto.

0 Komentar