RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Publik di Kota Batik mendadak digegerkan oleh isu penanganan penyakit menular yang memanas di jagat maya. Menanggapi viralnya surat berkop Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan terkait rencana rapat koordinasi (rakor) pencegahan penyakit di Karimunjawa pada Juni 2026 nanti, Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid, langsung pasang badan dan memberikan penjelasan gamblang.
Pria yang akrab disapa Wali Kota Aaf ini meminta masyarakat melihat polemik tersebut secara utuh. Ia menegaskan, esensi utama dari agenda tersebut adalah urgensi penanganan kasus HIV/AIDS di Kota Pekalongan yang saat ini kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan dan butuh tindakan kilat.
“Yang perlu dipahami masyarakat, kegiatan itu berkaitan dengan edukasi dan penanganan HIV/AIDS. Saat ini kondisi penyebaran HIV/AIDS sudah sangat memprihatinkan. Bahkan saya sampaikan kepada Dinas Kesehatan bahwa ini sudah masuk kategori siaga satu,” tegas Wali Kota Aaf dengan nada serius usai menghadiri kegiatan di Hotel Khas Kota Pekalongan, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga:Bus Rombongan SMPN 2 Brangsong Kecelakaan di Tol Cipali KM 88, 1 Orang Tewas dan 7 Luka-lukaDorong Pelaku UMKM Kuasai Bisnis Digital, Pemkab Pekalongan Gandeng Alfamart Lewat Program Alfamind
Ngeri, HIV/AIDS Sudah Masuk Lingkungan Kampus!
Aaf membeberkan fakta mengejutkan bahwa ledakan kasus HIV/AIDS saat ini tidak lagi memandang bulu. Penyakit mematikan ini bahkan dilaporkan sudah mulai merembet dan menyusup ke lingkungan generasi muda, termasuk kalangan mahasiswa di lingkungan kampus. Fakta pahit inilah yang menjadi alarm keras bagi Pemkot untuk memperketat benteng pertahanan lewat edukasi masif.
“Ini yang harus kita pahami bersama. Penyebarannya sudah masuk ke berbagai lingkungan, termasuk kampus dan generasi muda. Maka edukasi tidak boleh berhenti. Pencegahan harus diperkuat,” imbuhnya.
Terkait pemilihan lokasi kaji terap yang sempat memicu pro-kontra netizen, Aaf berdalih bahwa daerah yang dituju merupakan wilayah yang juga memiliki angka kasus HIV/AIDS tinggi, sehingga Pemkot Pekalongan bisa mencuri ilmu serta strategi penanganan yang sukses di sana.
Meski begitu, menyikapi kritik pedas dari warganet, Aaf mengaku legowo dan tetap meminta dinkes untuk menghitung ulang efisiensi anggaran serta menjaga sensitivitas publik.
“Kita tentu menerima masukan dari masyarakat. Semua akan dievaluasi dan dikaji kembali agar pelaksanaan kegiatan tetap efektif, tepat sasaran, dan tidak menimbulkan persepsi yang kurang baik,” tambahnya.
