Jangan Remehkan Gen Alpha, Kemampuan Belajar dan Literasi Mereka Melampaui Bayangan

Jangan Remehkan Gen Alpha, Kemampuan Belajar dan Literasi Mereka Melampaui Bayangan
PRESENTASI - Salah satu finalis lomba pembuatan resensi Disperpuska Batang saat mempresentasikan karya resensinya di depan juri, baru-baru ini.
0 Komentar

BATANG, RADARPEKALONGAN.ID – Di tengah kualitas minat baca masyarakat Indonesia yang masih menjadi sorotan, fenomena generasi baru, yakni Gen Z dan Gen Alpha, sepertinya memberi angin segar. Generasi digital native ini sering dianggap sebagai pembelajar yang giat dan cepat dalam banyak hal, terutama dalam mengakses dan mencerna informasi.

Terutama generasi Alpha, mereka lahir dan bertumbuh di era digital dengan akses informasi yang amat melimpah. Kondisi ini membentuk anak-anak Alpha menjadi pembelajar cepat dengan kemampuan multitasking yang mengagumkan, terutama jika dibandingkan dengan generasi orang tuanya (Milenial) yang tumbuh di era transisi digital.

Hal tersebut bukan hanya mengacu pada hasil riset para ahli, karena faktanya generasi yang lahir setelah 2010 (sebagian ahli menyebut 2012) juga terbiasa membaca banyak teks dalam intensitas tinggi setiap harinya. Bahkan apa yang dibaca mereka tak jarang melampaui imajinasi para orang tuanya, yang mungkin tidak menyangka anak-anak mereka sudah akrab dengan karya-karya berat.

Baca Juga:Jalan Sehat dan Pasar Murah Meriahkan HUT Bhayangkara ke-80 Polres KendalKalapas Pekalongan Tegaskan Hak Layanan Integrasi Gratis di Peringatan Harganas 2026

Dalam kesempatan kegiatan Pelatihan Literasi Digital di SMPN 1 Pecalungan yang dihadiri Bunda Literasi Faelasufa Faiz, terekam jelas ihwal beberapa siswanya yang telah membaca buku-buku populer di media sosial, mulai dari novel-novel Tere Liye sampai buku filosofis semacam Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Hal ini menunjukkan bahwa minat baca generasi muda tidak hanya sebatas hiburan ringan, tetapi juga merambah ke bacaan yang memantik pemikiran kritis.

Kesempatan lainnya, lomba resensi buku yang dihelat Disperpuska Batang juga mencatatkan fenomena serupa. Beberapa anak mengenal dan cukup memahami beberapa buku yang sebetulnya lebih cocok dibaca usia kuliah, dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori hingga karya Seno Gumira Ajidarma yang sarat akan ambiguitas bahasa dan makna. Sebagian peserta bahkan tahu tentang buku Madilog karya Tan Malaka, meski mengaku belum sempat membacanya secara utuh.

“Gen Z dan Alpha memang spesial, mereka bisa membaca buku-buku yang dulu mungkin di usia saya belum kepikiran untuk membacanya,” tutur Kurnia Hidayati, salah satu juri lomba resensi yang terkesan dengan kualitas pemahaman para peserta.

0 Komentar