Debit Bendung Juwero Susut di Musim Kemarau, Distribusi Irigasi Terancam Digilir

Debit Bendung Juwero Susut di Musim Kemarau, Distribusi Irigasi Terancam Digilir
ABDUL GHOFUR, DEBIT AIR - Petugas Operasional Bendung Juwero, Arifiyanto (kiri), Ahmad Munhamir menunjukkan kondisi Bendung Juwero di Kabupaten Kendal yang mengalami penurunan debit air akibat musim kemarau, Selasa (14/7/2026).
0 Komentar

KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Memasuki puncak musim kemarau, debit air di Bendung Juwero, Kabupaten Kendal, mengalami penyusutan yang cukup terasa. Meskipun demikian, kondisi saat ini dinilai masih lebih baik dibandingkan musim kemarau ekstrem yang terjadi sekitar lima tahun lalu ketika debit air mencapai titik terendah.

Petugas Operasional Bendung Juwero, Arfiyanto, mengatakan debit sungai yang masuk ke bendungan saat ini mencapai sekitar 9,6 meter kubik per detik.

Aliran tersebut kemudian dibagi ke dua saluran irigasi utama, masing-masing sekitar 4,8 meter kubik per detik untuk saluran kanan dan kiri yang mengairi lahan pertanian di berbagai kecamatan.

Baca Juga:Penyandang Tuli-ATS Antusias Ikuti Pelatihan Barista di SKB PekalonganKONI Pekalongan Gandeng UIN Gus Dur, Matangkan Persiapan PORSI II PTKIN Se-Jawa-Madura

“Kalau sekarang debit sungainya sekitar 9,6 meter kubik per detik. Dibagi ke saluran kanan dan kiri, masing-masing sekitar 4,8 meter kubik per detik,” ujar Arfiyanto didampingi Ahmad Munhamir, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, debit air akan terus mengalami penurunan apabila musim kemarau berlangsung lebih lama dan tidak disertai hujan di wilayah hulu. Namun, kondisi saat ini belum mencapai titik terendah seperti yang pernah terjadi pada tahun 2021.

“Yang paling rendah pernah sekitar lima tahun lalu. Waktu itu total debitnya tinggal sekitar lima meter kubik per detik, sehingga masing-masing saluran hanya menerima sekitar 2,5 meter kubik per detik. Kondisi itu jauh lebih berat dibanding sekarang,” katanya.

Ia menjelaskan, pada kondisi debit 9,6 meter kubik per detik yang terjadi sekitar awal Juli 2026, kebutuhan air irigasi masih dapat terpenuhi. Namun, saat debit turun hingga lima meter kubik per detik, kebutuhan air di wilayah hilir tidak dapat terpenuhi secara optimal.

Akibatnya, pembagian air harus dilakukan lebih ketat karena seluruh lahan pertanian tidak bisa memperoleh pasokan secara bersamaan.

“Saat debit sekecil itu, kebutuhan di bawah tidak mencukupi. Petugas di pintu pembagi harus mengatur giliran air agar semua wilayah tetap mendapat bagian,” jelasnya.

Arfiyanto menambahkan, dari Bendung Juwero air irigasi disalurkan ke sejumlah kecamatan, antara lain Ringinarum, Gemuh, sebagian Kangkung, Cepiring, serta Patebon.

Baca Juga:192 Siswa Baru SMPN 2 Batang Terima Seragam Gratis, Orang Tua Lega Beban BerkurangCegah Perundungan Sejak MPLS, FKUB Batang Tanamkan Nilai Toleransi di Sekolah

Sementara saluran lainnya mengairi wilayah Pegandon dan sekitarnya melalui pintu-pintu pembagi yang dijaga oleh petugas bendung.

0 Komentar