Keberadaan kedai kopi dan destinasi wisata berbasis alam juga menyerap sekitar 20 tenaga kerja lokal.
Pengelolaan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) mulai memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).
Kendati demikian, Mustajab menegaskan bahwa pengembangan wisata harus tetap selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.
Baca Juga:PLT Bupati Pekalongan: Alih Fungsi Sawah Harus Dikendalikan Demi Ketahanan PanganPlt Bupati Pekalongan Imbau Warga Jaga Kondusivitas Jelang Pilkades Serentak 30 Desa
Ke depan, Pemerintah Desa Tombo menargetkan penguatan industri kopi dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga pemasaran dengan orientasi ekspor.
Sejumlah program tengah disiapkan, antara lain pembangunan greenhouse, rumah produksi kopi, dan pengembangan produk kopi celup dengan harga terjangkau.
Dalam proses produksi, kelompok masyarakat termasuk ibu-ibu desa dilibatkan dalam penyortiran biji kopi.
Meskipun membuka peluang ekonomi, Mustajab menegaskan bahwa pengembangan wisata tidak boleh mengorbankan lingkungan.
“Tujuan kami bukan mengejar jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya, tetapi menjaga agar alam tetap lestari,” ujarnya.
Ia berharap Desa Tombo tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga ruang edukasi yang mengenalkan karakter alam, budaya, serta potensi pertanian kepada generasi muda. (Nov)
