Tak Kejar Wisata Massal, Desa Tombo Pilih Jaga Alam dan Kopi Lokal

Tak Kejar Wisata Massal, Desa Tombo Pilih Jaga Alam dan Kopi Lokal
NOVIA ROCHMAWATI. SAJIKAN - Desa Tombo pilih menjaga kelestarian alam dan potensi lokal untuk mendorong sektor wisata.
0 Komentar

BATANG, RADARPEKALONGAN.ID – Desa Tombo mengambil jalur berbeda dalam mengembangkan potensi wilayahnya. Di tengah gencarnya pembangunan destinasi wisata instan di berbagai daerah, desa di Kecamatan Bandar ini justru memilih menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian alam, dan keberlanjutan kopi lokal sebagai identitas utama.

Kepala Desa Tombo, Mustajab, menyebutkan bahwa kekayaan alam dan perkebunan kopi telah mengakar dalam kehidupan masyarakat setempat selama ratusan tahun. Komoditas tersebut menjadi sumber penghidupan utama bagi hampir seluruh warganya.

“Hampir 80 persen masyarakat merupakan petani kopi, sehingga komoditas ini menjadi tulang punggung perekonomian warga,” katanya saat ditemui di Sidawung Coffee, Desa Tombo, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga:PLT Bupati Pekalongan: Alih Fungsi Sawah Harus Dikendalikan Demi Ketahanan PanganPlt Bupati Pekalongan Imbau Warga Jaga Kondusivitas Jelang Pilkades Serentak 30 Desa

Selain perkebunan kopi, Desa Tombo juga menyimpan potensi wisata alam berupa kawasan hutan, aliran sungai, dan sejumlah curug yang masih terjaga keasriannya.

Kekayaan alam tersebut kini mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan secara bertahap. Namun, pemerintah desa menegaskan tidak ingin pembangunan wisata justru mengubah karakter asli wilayah.

Mustajab menjelaskan bahwa pihaknya masih selektif dalam menerima investasi dari luar. Pengelolaan kawasan wisata harus tetap berpihak pada masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

“Kami ingin ekonomi tumbuh tanpa merusak alam,” tegasnya.

Sejarah mencatat, identitas Tombo sebagai penghasil kopi telah dikenal sejak masa kolonial Belanda sekitar tahun 1800-an.

Bahkan, karakteristik kopi Tombo tercatat dalam arsip Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu kopi dengan cita rasa khas yang diakui.

Untuk memperkuat daya saing produk lokal, Pemerintah Desa Tombo menggandeng Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan identitas kopi khas desa melalui program branding “Legendary Coffee”.

Perjalanan kopi Tombo sempat mengalami dinamika saat PTPN mengembangkan perkebunan teh di wilayah tersebut. Namun, dalam satu dekade terakhir, masyarakat kembali mengangkat kopi sebagai komoditas unggulan.

Baca Juga:MTs NU 27 Jatipurwo Kembali Terbakar, Aula Hangus, Polisi Selidiki Aksi PembakaranKebutuhan Welder di Batang Diprediksi Melonjak, Disnaker Siapkan Pelatihan Sesuai Industri

“Kami ingin mengembalikan kejayaan kopi Tombo. Seluruh kopi yang disajikan di kedai berasal dari hasil panen petani lokal sehingga manfaat ekonominya langsung dirasakan masyarakat,” tegas Mustajab.

Pengembangan kopi dan wisata alam mulai menunjukkan dampak ekonomi nyata bagi warga. Pembukaan akses jalan menuju kawasan perkebunan mempermudah mobilitas sekitar 300 petani yang mengelola lahan di kawasan hutan.

0 Komentar