Pemprov Jateng Dorong Kualitas Air Minum Aman Lewat Surveilans di 35 Kabupaten/Kota

Pemprov Jateng Dorong Kualitas Air Minum Aman Lewat Surveilans di 35 Kabupaten/Kota
ISTIMEWA. UJI - Petugas Dinas Kesehatan melakukan pengujian terhadap kualitas air minum di Kota Pekalongan.
0 Komentar

KOTA PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengintensifkan pelaksanaan Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) di seluruh kabupaten dan kota sebagai instrumen utama pengendalian penyakit berbasis lingkungan.

Hasil surveilans tidak hanya menjadi potret kondisi kesehatan masyarakat, tetapi juga acuan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan perbaikan kualitas air minum yang aman dan layak konsumsi.

Programmer Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Atik Sarifatun, menjelaskan bahwa kegiatan SKAMRT serta Surveilans Kualitas Udara Dalam Rumah (SKUDR) menyasar 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Baca Juga:8 Pekerja di KIK Somasi PT Auri Steel Soal PHK Sepihak dan Upah TertahanPemkab Pekalongan Siapkan Rp150 Miliar untuk Perbaikan Jalan Prioritas 2027

Meski demikian, jumlah puskesmas yang menjadi lokus surveilans bervariasi, disesuaikan dengan alokasi dana dari Pemerintah Pusat melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

“Semua kabupaten/kota menjadi sasaran, tapi jumlah puskesmas berbeda-beda. Di Kota Pekalongan misalnya, dari 14 puskesmas, hanya empat yang mendapat pendanaan BOK pusat. Namun Pemkot Pekalongan mengalokasikan anggaran dari APBD sehingga 10 puskesmas lainnya tetap bisa melaksanakan surveilans,” ujar Atik saat pendampingan di Puskesmas Buaran, Kota Pekalongan, Jumat (7/8/2026).

Menurut Atik, komitmen pemerintah kota untuk menambah lokus surveilans di luar pendanaan pusat patut diapresiasi. Langkah tersebut menunjukkan keseriusan daerah dalam memastikan cakupan pemantauan kualitas air yang lebih menyeluruh. Hasil surveilans ini nantinya menjadi salah satu indikator penilaian kinerja daerah di bidang kesehatan lingkungan.

“Target kami tentu kualitas air minum yang memenuhi syarat terus meningkat, baik dari aspek bakteriologis, fisik, maupun kimia. Indikator ini selaras mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat,” jelasnya.

Berdasarkan catatan pemantauan tahun-tahun sebelumnya, Atik mengungkapkan bahwa kualitas air dari jaringan PDAM relatif lebih baik dibandingkan sumber air lainnya. Namun pada sejumlah sumber alternatif, masih ditemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli), sehingga perbaikan kualitas air minum masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Setelah seluruh rangkaian surveilans rampung, pemerintah kabupaten/kota akan melakukan analisis mendalam terhadap temuan di lapangan. Hasil analisis itu kemudian dievaluasi secara berjenjang bersama pemerintah provinsi dan pusat. Apabila ditemukan capaian yang belum memenuhi standar kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah akan memberikan pendampingan teknis dan menyusun langkah perbaikan.

0 Komentar