Modal Rp100 Juta dan Spekulasi Harga, Ini Tantangan Tengkulak Tembakau di Kendal

Modal Rp100 Juta dan Spekulasi Harga, Ini Tantangan Tengkulak Tembakau di Kendal
ABDUL GHOFUR. TENGKULAK - Tengkulak tembakau Zaenudin berdiri di antara tumpukan keranjang tembakau rajangan kering yang siap dipasarkan, , Rabu (19/8/2026).
0 Komentar

KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID — Profesi tengkulak tembakau di Kabupaten Kendal bukanlah pekerjaan yang mudah. Di balik aktivitas jual-beli hasil pertanian ini, terdapat perputaran modal puluhan hingga ratusan juta rupiah, persaingan antarpembeli, serta risiko spekulasi harga yang bisa berujung untung atau rugi.

Zaenudin (54), tengkulak asal Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, telah menggeluti usaha ini selama sepuluh tahun. Ia mengaku harus berpindah-pindah gudang untuk mendapatkan harga terbaik, karena setiap gudang memiliki kebijakan harga yang berbeda-beda.

“Kalau di sini harganya kurang tinggi, kita cari yang lebih tinggi. Harga gudang kan tidak sama. Kita mencari mana yang nyaman untuk bekerja,” ujar Zaenudin kepada Kompas.com, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga:Pemkot Pekalongan Salurkan Bantuan ke RPSBM, Pererat Kepedulian di HUT ke-81 RIPria Batang Ditemukan Meninggal di Rumah Usai 2 Hari Tak Masuk Kerja, Polisi: Tak Ada Kekerasan

Menurutnya, faktor kepercayaan dari pihak gudang menjadi kunci utama dalam menjalankan bisnis ini. Dengan adanya kepercayaan, proses penjualan tembakau menjadi lebih lancar tanpa prosedur yang berbelit.

“Kalau ada kepercayaan, kita mau menjual atau membawa tembakau tidak dipersulit. Semuanya saling percaya,” katanya.

Namun, menjadi tengkulak membutuhkan modal yang tidak sedikit. Zaenudin memperkirakan dibutuhkan dana antara Rp50 juta hingga Rp100 juta agar aktivitas pembelian dari petani dapat berjalan terus-menerus. Ia mencontohkan, satu kali pengiriman bisa mencapai 18 keranjang tembakau. Jika modal hanya Rp10 juta atau Rp20 juta, jumlah keranjang yang diperoleh terbatas dan biaya operasional justru membengkak.

“Kalau sedikit-sedikit, ongkosnya justru lebih besar,” jelasnya.

Risiko terbesar dalam profesinya, lanjut Zaenudin, muncul ketika ia membeli tembakau dengan harga tinggi berdasarkan spekulasi sebelum ada kepastian harga dari gudang atau pabrik. Jika harga di tingkat gudang ternyata lebih rendah dari harga beli, maka kerugian harus ditanggung sendiri.

“Musim ini memang sulit. Tengkulak sudah berspekulasi tinggi, tetapi ketika masuk gudang harganya tidak sampai. Kalau sudah masuk, biasanya tidak mungkin ditarik lagi,” ungkapnya.

Zaenudin menjelaskan bahwa sistem pembayaran di gudang dilakukan setelah melalui proses pemeriksaan contoh tembakau. Contoh dikirim ke pabrik dan jika mendapat persetujuan (ACC), pembayaran dapat dicairkan dalam waktu sekitar satu hari.

Meskipun penuh risiko, Zaenudin mengaku selama sepuluh tahun terakhir ia lebih sering memperoleh keuntungan dibanding kerugian. “Kalau keberuntungannya bagus, dapat untung. Kalau tidak, ya rugi. Tapi selama ini lebih banyak untung, makanya masih bertahan,” tandasnya.

0 Komentar