RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pekalongan mengintensifkan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Salah satu program produktif yang kini difokuskan adalah jasa jahit (maklon) pembuatan pakaian jenis daster yang beroperasi secara rutin di Ruang Bimbingan Kegiatan.
Telah berjalan selama enam bulan terakhir, program ini dirancang tidak sekadar untuk melatih kedisiplinan, melainkan menyiapkan kapasitas narapidana agar siap berbaur kembali ke masyarakat. Rutan Pekalongan menitikberatkan pada keterampilan aplikatif yang memiliki nilai ekonomi riil di pasar kerja.
Saat ini, sebanyak tiga WBP yang telah mengantongi kemampuan dasar menjahit ditunjuk untuk memproduksi daster. Proses pengerjaan diawasi secara langsung oleh petugas guna memastikan standar kualitas industri terpenuhi dan operasional tetap berjalan aman.
Baca Juga:Rawan Gugatan Ahli Waris! 200 Sertifikat Wakaf di Pekalongan Bermasalah, Wali Kota Desak BWI BeraksiViral Video Pribadi Warga Bandar Batang Bocor, Polisi Buru Pelaku Penyebarnya
Kepala Subsie Bimbingan Kegiatan Rutan Pekalongan, Suharto Laksono, menegaskan bahwa skema pemberdayaan ini merupakan bagian dari cetak biru pembinaan berkelanjutan di instansinya.
“Kami berkomitmen memberikan pembinaan kemandirian yang nyata dan bermanfaat bagi WBP. Melalui pelatihan menjahit ini, kami ingin mereka memiliki keterampilan yang bisa menjadi bekal usaha dan membuka peluang kerja setelah kembali ke masyarakat,” ujar Suharto menjelaskan.
Gandeng Produsen Lokal dan Berikan Premi Binaan
Untuk menyukseskan ekosistem produktif ini, Rutan Pekalongan menggandeng pihak swasta, yakni produsen Batik Putri Diana. Pihak mitra bertindak sebagai penyuplai bahan baku kain yang kemudian dikerjakan oleh para narapidana. Setelah proses penjahitan selesai, produk daster dikembalikan kepada mitra.
Suharto menambahkan, pola kemitraan jasa produksi ini memberikan keuntungan ganda bagi WBP.
“Selain mendapatkan pengalaman kerja, WBP yang terlibat juga menerima premi sebesar 30 persen dari hasil produksi sebagai bentuk apresiasi atas kinerja mereka. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan motivasi, rasa tanggung jawab, serta kepercayaan diri WBP dalam mengembangkan potensi diri,” terangnya.
Ke depan, pihak rutan berencana untuk terus mengekspansi program serupa dengan cakupan peserta yang lebih luas. Berbekal jam terbang pengerjaan produksi, para narapidana diproyeksikan mampu menjadi individu yang mandiri dan kompetitif pasca-menjalani masa hukuman.
