Keren! Lawan Candu Gadget, Siswa SD di Pekalongan Lestarikan Budaya Lewat Lomba Bertutur

Keren! Lawan Candu Gadget, Siswa SD di Pekalongan Lestarikan Budaya Lewat Lomba Bertutur
ISTIMEWA LOMBA BERTUTUR - Para pemenang dalam lomba bertutur tingkat SD berfoto bersama usai penerimaan piala.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Ada pemandangan super seru dan bikin bangga di Aula Perpustakaan Daerah Kota Pekalongan pada Senin (21/4/2026). Di tengah gempuran tren anak-anak yang hobi main gadget dan mengonsumsi konten instan, puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) justru antusias adu bakat di ajang Lomba Bertutur!

Acara bergengsi yang digagas langsung oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan ini sukses mencuri perhatian. Bunda Literasi Kota Pekalongan, Inggit Soraya, yang hadir langsung tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

Menurut Inggit, Pekalongan sebagai Kota Kreatif Dunia punya segudang kekayaan cerita rakyat dan budaya yang wajib dijaga oleh generasi penerus lewat seni bertutur.

Baca Juga:Melesat, Program Makan Bergizi Gratis Kendal Penuhi 175 Titik Layanan untuk 242.902 WargaGawat! Toko 24 Jam Jual Rokok Ilegal Marak di Pelosok Pekalongan, KCBI Bongkar Modusnya

“Bertutur bukan hanya soal suara lantang atau gerakan tubuh. Lebih dari itu, bagaimana anak-anak mampu menyalurkan imajinasi, memahami pesan moral, dan membagikannya kepada orang lain,” ungkap Inggit dengan penuh semangat.

Inggit juga blak-blakan mengingatkan para orang tua bahwa kebiasaan simpel, seperti mendongeng sebelum tidur, ternyata menjadi fondasi emas untuk membentuk karakter anak.

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga membentuk pribadi yang kritis, santun, dan memiliki empati tinggi,” sambungnya. Tak lupa, ia membakar semangat para peserta agar berani dan pede tampil di atas panggung, karena ketulusan bercerita adalah poin utama yang patut diacungi jempol!

Bukan Sekadar Hafalan, Perpustakaan Jadi Ruang Kreativitas!

Senada dengan Inggit, Kepala Dinarpus Kota Pekalongan, Gufron Faza, turut melontarkan statement yang menohok. Ia mengibaratkan jika membaca adalah jendela dunia, maka bertutur adalah cara paling keren untuk membuka jendela itu agar isinya bisa dinikmati banyak orang.

“Lomba ini bukan sekadar ajang unjuk bakat atau menghafal teks, tetapi bagaimana anak-anak mampu menghidupkan nilai-nilai budaya dan sejarah melalui cerita,” beber Gufron.

Gufron menyoroti bahwa di era digital ini, skill bercerita atau bertutur makin mahal harganya. Anak-anak dituntut agar tidak cuma jadi konsumen pasif informasi, tapi harus berani bertransformasi menjadi pencerita yang kreatif dan menginspirasi teman-teman sebayanya!

0 Komentar