TPA Darupono Kendal Lumpuh, Truk Antre Berjam-jam, DPRD Desak Tambah Alat Berat

TPA Darupono Kendal Lumpuh, Truk Antre Berjam-jam, DPRD Desak Tambah Alat Berat
ABDUL GHOFUR SIDAK TPA - Ketua Komisi C DPRD Kendal, Sisca Meritania saat melakukan sidak di TPA Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Senin (11/5/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Darupono di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, kini tengah mengalami kelumpuhan operasional. Puluhan armada truk pengangkut sampah terpaksa mengular dan antre hingga berjam-jam akibat lambatnya proses bongkar muatan di lokasi pembuangan.

Menindaklanjuti keluhan masyarakat yang kian meluas terkait terhambatnya pengangkutan sampah, Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kendal langsung menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi TPA pada Senin (11/5/2026).

Ketua Komisi C DPRD Kendal, Sisca Meritania, menyoroti krisis ini sebagai situasi serius yang menuntut penanganan cepat dan konkret dari pemerintah daerah.

Baca Juga:Akhir Pencarian 3 Hari, Lansia Kendal Ditemukan Tewas Tenggelam di Sungai BodriParah! Pengelola Eks Pendopo Pekalongan Nunggak Sewa, Pemkab Resmi Layangkan SP2 dan Ancam Putus Kontrak

“Persoalan di TPA Darupono ini sudah jelas. Alat berat kurang, akses jalan menuju titik bongkar buruk, dan armada pengangkut sampah juga minim. Ini yang membuat antrean truk terus terjadi,” tegas Sisca di sela-sela peninjauannya.

Berdasarkan temuan lapangan, proses penguraian dan pemindahan sampah tidak berjalan maksimal lantaran hanya ada satu unit alat berat yang beroperasi. Sisca mengingatkan bahwa masalah ini tidak bisa dipandang sebelah mata, terlebih Kabupaten Kendal telah menerima surat teguran terkait pengelolaan sampah.

“Sampah ini persoalan serius, bukan masalah kecil. Kendal bahkan sudah mendapat surat peringatan. Jadi penanganannya tidak boleh setengah-setengah,” tandasnya. Ia juga mendesak percepatan perbaikan akses jalan menuju titik bongkar agar sirkulasi kendaraan bisa berjalan lebih efisien.

Jeritan Sopir Truk dan Warga

Dampak dari kelumpuhan TPA ini sangat dirasakan oleh para sopir armada pengangkut. Japar, salah seorang sopir truk sampah asal Desa Ngabean, Kecamatan Boja, mengeluhkan antrean yang kerap memakan waktu lebih dari empat jam.

“Kadang lebih parah. Pernah sampai TPA hari Selasa, baru bisa bongkar hari Kamis. Karena kelamaan, mobil sampai ditinggal,” keluh Japar menceritakan pengalamannya.

Kondisi bottleneck di TPA ini berimbas langsung pada terhentinya pelayanan pengangkutan sampah di tingkat desa. Dengan armada yang terbatas, sampah warga terpaksa dibiarkan menumpuk hingga memicu banyak protes.

“Banyak masyarakat yang komplain karena sampah belum terangkut,” imbuh Japar yang berharap pemerintah segera menambah operasional alat berat.

0 Komentar