RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Siapa sangka, gemercik cuan kini mengalir deras dari kandang-kandang sapi perah milik warga di Desa Semampir, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Desa yang dulunya adem ayem dan hanya dikenal sebagai kawasan pertanian serta lumbung sapi potong, kini perlahan tapi pasti menjelma menjadi sentra baru pengembangan sapi perah yang paling diperhitungkan di Kabupaten Batang.
Geliat bisnis pemerasan susu ini benar-benar meroket tajam. Dari yang dulunya hanya digeluti oleh tiga orang peternak yang nekat, sekarang tercatat sudah ada 13 peternak aktif yang sukses memanen untung setiap harinya.
Salah satu pahlawan lokal yang sukses memelopori bisnis ini adalah Rudito. Pria ramah ini mengaku mulai banting setir dan nekat menekuni usaha sapi perah sejak tahun 2022 silam.
Baca Juga:TMMD Sengkuyung Sukses Sulap Jalan Noyontaansari Pekalongan Mulus Bak Jalan RayaDarurat Perundungan dan Kekerasan Seksual di Jateng, Wagub Taj Yasin Soroti Kasus Bunuh Diri Remaja
Melihat prospek cerah dari segelas susu segar yang kian dicari pasar, Rudito memutuskan meninggalkan zona nyamannya di bisnis sapi potong.
“Awalnya saya hanya punya dua ekor sapi. Sekarang sudah berkembang menjadi tujuh ekor,” ungkap Rudito penuh kebanggaan saat ditemui di sela-sela aktivitasnya memeras susu, Senin (25/5/2026).
Berkah Udara Pegunungan Bikin Sapi “Happy” dan Susu Melimpah
Rudito membocorkan rahasia suksesnya. Menurutnya, kondisi geografis Desa Semampir yang berada di dataran tinggi dengan hawa pegunungan yang sejuk menjadi faktor kunci. Sapi-sapi perah di sini dijamin bebas stres dan merasa lebih nyaman, sehingga produksi susunya jauh lebih melimpah ketimbang sapi yang diternak di wilayah berhawa panas.
Tak hanya udaranya yang juara, urusan perut si sapi juga terjamin karena ketersediaan rumput hijau segar di kawasan Reban melimpah ruah sepanjang tahun. Keunggulan alam inilah yang membuat warga desa berbondong-bondong ikut tertular sukses Rudito.
“Sekarang masyarakat mulai melihat kalau sapi perah bisa menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan,” katanya dengan senyum lebar.
Dari tujuh ekor sapi perah kesayangannya, Rudito kini bisa tersenyum lebar karena mampu mengantongi rata-rata 15 liter susu segar per ekor setiap hari. Gak perlu bingung soal pemasaran, gunungan susu segar hasil perahan warga langsung disetor ke pos penampungan desa yang sudah menjalin kemitraan elit dengan perusahaan mentereng, Nestlé.
